Majelis Ta’lim Ini Menampung Muallaf Khusus Keturunan Thionghoa

Salah satu kegiatan umat muslim Tionghoa di majelis ta’lim.
foto : radarbanjarmasin/JPG

Salah satu kegiatan umat muslim Tionghoa di majelis ta’lim. foto : radarbanjarmasin/JPG

POJOKSUMUT.com, BERKEMBANGNYA agama Islam di pinggiran Pleihari, Tanah Laut, Kalimantan Selatan, terlihat dengan hadirnya majelis ta’lim yang menampung warga muslim keturunan Tionghoa untuk belajar agama.

Donny Muslim & Muhammad Rifani, Parit Baru, Tanah Laut

Cuaca Kota Pelaihari sore itu (9/6/2017) sedang terik-teriknya. Hawa panas begitu menyergap tubuh. Namun, kami harus berangkat menuju Parit Baru, salah satu kawasan yang ada di pinggir kota Pelaihari.

Ardian Hariansyah, wartawan Radar Banjarmasin (Jawa Pos Group) yang ngepos di Tanah Laut, Kalsel, merekomendasikan kawasan tersebut untuk dikunjungi. “Di sana ada pengajian mualaf dari etnis Tionghoa,” sarannya.

Letaknya 10 kilometer dari pusat Tanah Laut. Berada di pinggir kota, Parit Baru dikenal sebagai pemukiman etnis Tionghoa. Warga Tionghoa dari berbagai latar belakang keyakinan hidup rukun dalam satu komplek.
Motor kami berhenti di depan sebuah langgar. Nama langgarnya Darul Muhajirin. Langgarnya kecil. Ukurannya 6×4 meter.

Tak ada ornamen atau warna dominan merah layaknya langgar atau masjid Tionghoa pada umumnya. Namun, kata Ardian, langgar ini adalah satu-satunya tempat yang dijadikan warga muslim Tionghoa di daerah sana untuk melakukan aktivitas keagamaan.

Benar. Saat memasuki ruang induk langgar, kami melihat belasan warga Tionghoa sedang khusyuk belajar membaca Iqra dengan dipandu seorang penyuluh agama.

“Dari Radar Banjarmasin ya? Silakan tunggu dulu, masih ada antrian warga yang mau belajar Iqra,” kata Marliani menyapa kami. Perempuan berumur 44 tahun ini adalah penyuluh agama untuk warga muslim Tionghoa.

Selama menunggu Marliani selesai, pandangan kami tertuju pada perempuan tionghoa tua yang sedang serius belajar membaca Iqra jilid pertama. Nama muslimnya Siti Aisyah. “Alif, Ba, Ta, Tsa, Jim, Ha, Ho,” ucapnya terbata-bata.

“Kho bukan Ho, pian harus pake tenggorokan untuk menyebut hurufnya,” kata Marliani dengan lembut mengajari perempuan berumur 77 tahun tersebut. Aisyah tak henti-henti mengulanginya.

Aisyah bercerita, ia tertarik memeluk agama Islam lantaran melihat ajarannya yang sejuk dan penuh kedamaian. “Saya tertarik memeluk Islam dari lubuk hati paling dalam,” ujarnya dengan nada lirih.

Tak lama, seorang pria tionghoa datang menghampiri kami. Ia mengenakan peci, baju koko, dan celana kain berwarna krem.

“Hendra Lim,” ujarnya tersenyum sambil menyodorkan tangan tanda perkenalan diri. Ternyata, pria ini adalah seorang penyuluh agama yang membantu Marliani.
“Saya sudah lama memeluk Islam dan ikut mengajar warga-warga tionghoa,” kata pria berkacamata ini.



loading...

Feeds

SAH! Besok Kita Lebaran

Menurutnya, hilal terlihat di pada sudut ketinggian 3,88 derajat dengan umur bulan 8 jam 15 menit dan 24 detik. Hal …