Mengerikan! Pak Haji Diikat di Pohon, Dipukuli Hingga Tewas

Warga melihat H Umar Fadil yang diikat di pohon mimba di pinggir jalan raya Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek, Sumenep, dini hari Minggu (18/6). Sekitar pukul 04.40 dia tewas. (ABD. MUKSIDYANTO/JPRM)

Warga melihat H Umar Fadil yang diikat di pohon mimba di pinggir jalan raya Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek, Sumenep, dini hari Minggu (18/6). Sekitar pukul 04.40 dia tewas. (ABD. MUKSIDYANTO/JPRM)

POJOKSUMUT.com, MARAKNYA kasus pencurian di Desa Lapa Taman, Kecamatan Dungkek, Sumenep membuat emosi warga memuncak tatkala mendapati seseorang mencurigakan saat mereka menggelar ronda malam, Minggu (18/6/2017).

Seorang pria bernama H Umar Fadil, 48, warga asal Desa Tamansare, Kecamatan Dungkek langsung diringkus warga saat hendak masuk ke rumah Kamaludin, warga Dusun Tengah, Desa Lapa Taman.

Miris, Pak Haji yang sudah tiga kali masuk penjara itu tewas akibat diamuk massa. Dia mengalami luka parah di kepala bagian belakang. Informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Madura, peristiwa maut di Desa Lapa Taman itu berawal saat H Umar Fadil diduga hendak mencuri di rumah Kamaludin. Sekira pukul 00.00, dia memanfaatkan pintu rumah korban yang terbuka.

Dia masuk saat pemilik rumah berada di kamar mandi. Dari kamar mandi, Kamaludin masuk kembali ke rumah untuk istirahat. Namun beberapa saat kemudian, ada bunyi mencurigakan di salah satu kamar. Begitu di kroscek, ternyata ada orang yang diduga maling kabur melalui pintu depan. Kamaludin berteriak maling. Warga sekitar yang siaga setiap malam pun langsung kalang kabut melakukan pengejaran.

Orang yang diduga maling itu diketahui mengenakan cadar merah, sarung, dan kaus. Dia kabur ke arah barat. Di pohon cemara, orang yang diduga maling tersebut sempat menghilang. Warga semakin kompak mencari. Tiba-tiba orang itu muncul dari tempat gelap di sekitar pohon cemara. Warga berhasil menangkap ramai-ramai orang tersebut.

Diketahui, orang yang diduga maling adalah H Umar Fadil. Dia lantas diseret sekitar setengah kilometer ke arah barat rumah Kamaludin. Kedua tangannya diikat ke pohon mimba di selatan jalan raya Desa Lapa Taman. Sambil diikat, massa mulai memukuli di kepala dan sekujur tubuh Pak Haji berbadan kekar itu.

”Dia (H Umar Fadil, Red) sempat melawan menggunakan pisau. Tapi, berhasil digagalkan oleh warga. Pisaunya lepas dari tangan dia,” kata seorang warga berinisial MF. H Umar Fadil diketahui membawa sandal berbagai ukuran yang ditaruh di pinggangnya. Selain itu, dia membawa obeng dan tang.

Saat diancam akan dibakar di tempat yang diikat, dia mengaku bahwa aksinya masuk ke rumah Kamaludin disuruh oleh PN (inisial), warga desa setempat. Mendengar pengakuan itu, massa bergerak menuju rumah PN. Hanya, yang bersangkutan sudah tidak ada di rumah karena lebih dulu kabur.

Ribuan warga dari berbagai desa di wilayah pantura Sumenep kemudian berdatangan. Mereka melihat dari dekat Pak Haji yang tangannya diikat tali warna biru itu. Saat Jawa Pos Radar Madura tiba di lokasi kejadian sekira pukul 04.00, tubuh H Umar Fadil sudah tidak bergerak. Dia kemungkinan sudah tewas.

”Sejak sebelum bulan puasa hingga sekarang, di desa kami banyak pencurian. Sapi dan emas yang disasar. Mungkin dia pelakunya,” kata seorang warga sambil menunjuk tubuh H Umar Fadil yang terus meneteskan darah dari kepala.

Polisi sebenarnya sudah datang ke tempat kejadian perkara (TKP). Namun aparat tak kuasa mengamankan Pak Haji yang diikat di pohon. Sebab waktu itu warga membeludak. Jika polisi mau mengamankan H Umar Fadil, harus ada perjanjian terlebih dahulu. Yakni, jangan ada maling lagi di Desa Lapa Taman. Jika ada pencurian lagi, polisi harus mengganti.

Dengan kondisi seperti itu, polisi hanya berada di sekitar lokasi. Baru pada pukul 04.40, setelah diduga kuat H Umar Fadil tak bernyawa, polisi bersama tim medis membawanya ke RSUD dr H Moh. Anwar Sumenep. Sekira pukul 09.00, jenazah dipulangkan ke rumah duka di Desa Tamansare.

Kapolsek Dungkek AKP Jaiman mengatakan, malam itu pihaknya dibantu personel dari polres datang ke TKP. Tapi tidak bisa berbuat banyak karena ada ribuan warga. Hingga kemarin petang, polisi masih melakukan penyelidikan terkait aksi main hakim sendiri itu. ”Fokus olah TKP dulu,” katanya.

(sid/hud/JPG/nin)



loading...

Feeds