Napi Kabur, Kemenkuham Lakukan Evaluasi Kinerja Kalapas Tanjunggusta

Tampak terali besi bagian atas tembok Lapas dibongkar dan para tahanan meloloskan diri dengan memanjat dengan kain.
foto : Humas Polda Sumut

Tampak terali besi bagian atas tembok Lapas dibongkar dan para tahanan meloloskan diri dengan memanjat dengan kain. foto : Humas Polda Sumut

 
POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara (Kemenkuham Sumut) akan melakukan evaluasi terhadap kinerja seluruh pegawai termasuk ‎Kepala Lapas Klas IA Tanjung Gusta Medan, ‎Asep Syarifuddin, terkait kaburnya 4 napi di Lapas tersebut, Selasa (20/6/2017) subuh, sekitar pukul 05.30 WIB.

 

 

Dari analisis secara internal dilakukan Divisi Kemenkuham Sumut, ada faktor kelalai petugas mengakibatkan keempat tahanan tersebut, bisa melarikan diri, dengan cara memotong trali besi dan meloncat tembok sekitar 10 meter.

 

 

‎Keempat napi yang kabur itu adalah Hussaini (35) warga Indrapura, Kota Aceh Besar, Aceh, kasus pembunuhan, hukuman 11 tahun penjara, Alhadi (30) warga Tapak Tuan Aceh Selatan, Aceh kasus pembunuhan hukuman 11 tahun penjara, Rudi Rahman warga Aceh Selatan, Aceh, kasus narkoba hukuman 8 tahun penjara dan Muliadi (30) warga Aceh, kasus narkoba hukuman 8 tahun penjara.

 

 

‎Menurut kronologis ‎kabur tahanan itu, dengan menggerjai besi ventilasi penjara. Kaburnya mereka dibantu empat orang rekannya, yakni Saparuddin (30), Yulis‎ (30), M Yusuf dan Fajar (15). Keempat orang itu, sudah menyiapkan untuk pelarian keempat napi tersebut dengan barang bukti seperti ‎samurai, golok pisau, tangga lipat, tali nilon panjang 30 meter, tali plastik, besi tenda, tas coklat, satu unit handpone, sarung tangan, sebo.

 

 

“Karena ada indikasi berusaha melarikan diri keempat tahanan dimasukkan ke dalam satu jeruji besi yang namanya strap sel. Di  tempat itu, para napi justru merancang strategi lebih matang karena kurang pengawasan. Makanya, akan dilakukan evaluasi secara internal, ” ungkap Kepala Divisi Pemasyarakatan (Divpas) Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) Sumut, Hermawan Yunianto kepada wartawan, Kamis (22/6/2017).

 
Hermawan menyebut, modus operandi yang dilakukan napi melarikan diri itu menggunakan gergaji untuk memotong teralis yang ketebalannya 22 mm. Para napi yang mencoba kabur tersebut diperkirakan menggunakan telepon seluler menghubungi rekannya untuk menjemput di Lapas.

 
“Yang menjadi pertanyaan saya kenapa dia bisa menghubungi kawannya begitu dia lari. Berarti kan ada hape. Selain itu, dari mina mereka bisa dapat gergaji itu. Jadi yang digergaji itu teralis dilakukan secara bertahap, nggak mungkin sehari itu bisa dikerjakan Besinya ukuran 22 mm, besi standar lapas. Kalau bukan orang yang jago-jago betul sulit itu menggergajinya,” ucapnya.
Atas kejadian tersebut, Hermawan mengakui hal itu merupakan kelalaian petugas. “Petugas dalam hal mengontrol maupun memeriksa sarana dan prasana terkait pengamanan seperti pintu, gembok, teralis, lampu penerangan kurang maksimal. Semua harus dikontrol baik-baik. Kurang jeli mereka (petugas). Itu ada acara untuk mendeteksi apakah jeruji besi digergaji atau tidak. Diketok pakai kayu bisa ketahuan nyaring atau tidak bunyinya,” ungkapnya.

 



loading...

Feeds