Permudah Informasi Stok Darah, Tiga Mahasiswa Ini Ciptakan Aplikasi Fast Blood

Niki Rahmadi, salah satu developer aplikasi Fast Blood, saat menunjukkan kepada Radar Lampung kemarin (28/6). FOTO RIMADANI EKA MARETA/RADAR LAMPUNG

Niki Rahmadi, salah satu developer aplikasi Fast Blood, saat menunjukkan kepada Radar Lampung kemarin (28/6). FOTO RIMADANI EKA MARETA/RADAR LAMPUNG

POJOKSUMUT.com, KETERSEDIAAN darah untuk pasien yang membutuhkan sering kali menjadi masalah. Namun, kini di era teknologi digital saat ini, pilihan untuk mencari stok darah bisa dengan satu kali klik dari smartphone.

Inovasi ini diciptakan oleh mahasiswa Ilmu Komputer Universitas Lampung (Unila) dengan aplikasi donor darah bernama Fast Blood.

Permohonan bantuan donor darah kerap menyebar lewat pesan singkat atau melalui media sosial. Namun, informasi itu tak didukung aplikasi yang memadai. Karenanya, Niki Rahmadi Wiharto, M. Arief Hidayat, dan Ahmad Taqiyudin berusaha menciptakan aplikasi yang bisa membantu orang mendonorkan darahnya.

Kepada Radar Lampung (grup pojoksumut), Niki menjelaskan cara kerja aplikasi Fast Blood yang mereka buat. Tiap orang yang telah mendaftar lewat aplikasi ini otomatis terdata berdasarkan golongan darahnya.

’’Kalau pemilik akun di aplikasi ini membutuhkan golongan darah A, maka akun tersebut akan menyebarkan informasi ke seluruh anggota dengan darah yang golongannya sama,” ujar dia kemarin (28/6/2017).

Aplikasi Fast Blood ini bisa langsung diunduh di playstore. Kemudian akun baru akan langsung diarahkan untuk mendaftar alamat email. Nanti akan diarahkan untuk mengisi nama, alamat, tanggal lahir dan golongan darah.

Jika sudah masuk akan terlihat tampilan tulisan butuh donor dan kegiatan donor. Karena aplikasi ini belum terhubung langsung dengan Palang Merah Indonesia, disediakan menu layanan informasi ke PMI Provinsi Lampung UTD Cabang Pembina di jalan Dr. Samratulangi Bandarlampung.

Menurut Niki, aplikasi ini bekerja saat ada permintaan butuh donor. Maka golongan darah yang serupa permintaan akan menerima pemberitahuan tersebut. Proses berlanjut ke pendonor dan akun yang membutuhkan dengan fasilitas nomor telefon yang bisa dihubungi didalamnya.

Dengan kata lain, setiap pendonor yang siap membantu akan langsung menghubungi nomor yang bersangkutan untuk memberikan informasi selanjutnya.

Inilah Niki, Arief dan Taqiyudin inginkan. Sebab, mereka tak banyak mengetahui kemana informasi yang diterima melalui smartphonenya setiap ada permintaan donor darah. Apalagi, banyak informasi yang disebar dalam keadaan darurat.

“Alasannya ya itu, tiap dapet broadcast (pesan siaran disosial media) dari beberapa grup organisasi hanya sampai sana saja. Saya penasaran sampai atau tidak ke orang yang butuh donor darah. Kalau pakai aplikasi ini, jelas yanh mendaftar siap untuk mendonorkan darahnya. Proses lanjutannya juga bisa dilakukan secara pribadi,” lanjut Niki.

Aplikasi ini diciptakan langsung oleh ketiga mahasiswa angkatan 2015 ini. Ide dan proses perancangannya juga mereka diskusikan bertiga. Untuk design tampilan aplikasi diserahkan sepenuhnya dengan Taqiyudin. Sementara Niki dan Arief sebagai perancang programnya.

Ide ini tercetus pada Mei lalu. Hanya dengan waktu seminggu, aplikasi ini sudah selesai dan dapat langsung digunakan. Proses cepat ini, diakui Niki, karena adanya mata kuliah aplikasi Android yang diterimanya di semester empat.



loading...

Feeds