Tempe Karya Siswa SMA Unggul Del Samosir Sukses Meluncur Bersama Roket NASA

Stanley Siagian (tengah) bersama Ronaldo Simatupang (kanan) dan Ruth Hutagalung menunjukkan prototipe microlab biji kedelai. Foto : Taufiqurrahman/Jawa Pos

Stanley Siagian (tengah) bersama Ronaldo Simatupang (kanan) dan Ruth Hutagalung menunjukkan prototipe microlab biji kedelai. Foto : Taufiqurrahman/Jawa Pos

POJOKSUMUT.com, PRESTASI membanggakan datang dari SMA Unggul Del, Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara.

Karya para siswa-siswi berupa kotak berisi microlab dan lima biji kedelai telah meluncur bersama roket Falcon 9 milik NASA pada 4 Juni 2017 lalu. Proyek siswa SMA pinggiran Danau Toba itu adalah bagian dari upaya umat manusia untuk mengembangkan kehidupan di luar bumi.

——

Wajah Matthew Adrian Silalahi dan sembilan anggota timnya semringah. Foto pertama dari microlab milik mereka telah dikirim dari International Space Station (ISS). Dalam foto tersebut, lima biji kedelai dan keseluruhan microlab berhasil sampai di luar angkasa tanpa tergores.

Dengan bangga dia menceritakan ISS project tahap kedua di aula SMA Unggul Del, Desa Sitoluama, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Jumat lalu (16/6/2017). ”Microlab milik kami lulus semua persyaratan laik terbang dari NASA,” katanya.

Riset mereka bertujuan menguji kemungkinan manusia memproduksi dan menyimpan makanan dalam kondisi gravitasi rendah (microgravity). Karena ingin menunjukkan identitas Indonesia, dipilihlah tempe. Tapi, tempe tidak langsung jadi. Harus ada ragi, harus ada fermentasi. Nah, microlab itubertugas mengangkut spesimen kedelai dan melakukan fermentasi di luar angkasa.

Microlab dibungkus dalam kontainer kecil yang berukuran 12,5 cm x 4,7 cm. Hanya sedikit lebih besar daripada penghapus papan tulis. Di dalamnya ada dua komponen utama. Yakni chamber alias ruangan tempat kedelai difermentasi. Yang kedua adalah lab mikro yang bertugas untuk memulai, menjalankan, merekam, mengumpulkan data, serta menghentikan proses fermentasi.

Chamber berbentuk tabung tembus pandang. Terhubung dengan beberapa slang yang berisi 10 mililiter air dengan dilengkapi sebuah pompa kecil seukuran ibu jari orang dewasa. Eka Trisno Samosir, mentor tim, menjelaskan, begitu sampai di ISS, pompa mulai menyemprotkan air ke dalam tabung yang berisi kedelai. ”Sebelumnya, ragi sudah dipasang di biji kedelai,” katanya.

Proses fermentasi pun dimulai saat air, ragi, dan biji kedelai tercampur. Para ”penghuni” lab mikro yang terdiri atas master controller (MC), termometer, printed circuit board (PCB), kamera, dan lampu LED kecil menjalankan tugas layaknya sekelompok manusia di dalam lab.

“Tiga kali seminggu data dikirim ISS ke VCHS California, kemudian diteruskan ke SMA Unggul Del untuk dikaji. Setelah melewati 30 hari, microlab akan diterbangkan kembali ke bumi. ”Normalnya 30 hari, itu pun kalau tidak ada kendala teknis,” papar Eka.

Meski kecil, microlab sangat mahal. Pihak sekolah enggan menyebut biaya yang dibutuhkan. Yang jelas, semua komponen dipesan dari AS. Termasuk biji kedelai. Alasannya sertifikat. Cuma produsen di AS yang memiliki sertifikat produk yang diakui NASA. ”Cuma ragi yang beli di Indonesia,” kata Eka.

Bagi SMA Unggul Del, itu tahap kedua keikutsertaannya dalam ISS project hasil kerja sama Badan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) dengan produsen produk dan layanan riset luar angkasa NanoRacks serta Applied Math, Science, and Engineering (AMSE) Institute di Valley Christian High School (VCHS) San Jose, California, AS.

NASA memang tengah menebar kesempatan bagi para pelajar di seluruh dunia untuk terlibat dalam riset luar angkasa. Khusus Indonesia, agensi yang berkedudukan di Washington DC, AS, itu punya permintaan khusus. Yakni menggarap makanan. Tawaran dari NASA tersebut disambut dua tim dari Indonesia. Satu tim terdiri atas gabungan siswa dari berbagai SMA di seluruh Indonesia di bawah binaan Surya Institute, Serpong, Banten.



loading...

Feeds