Ada Pejabat yang Masih Mau Pakai Jasa Setrikaan Arang

 Sahrial saat mengerjakan gosokan orderan yang datang (Dok.Jambi Ekspres/JPG)

Sahrial saat mengerjakan gosokan orderan yang datang (Dok.Jambi Ekspres/JPG)

 

POJOKSUMUT.com, Ada yang menarik di tengah hiruk-pikuk Pasar Sitimang yan ramai setiap pagi.

Di tengah ramainya suara tawar-menawar pedagang dan pembeli, penulis tertarik ketika melihat sesosok pria paruh baya yang sedang duduk termenung sendiri sambil sesekali melihat kearah ujung lorong.

Ia adalah Sahrial, penjual jasa penggosok baju dengan setrika arang.

YANI TAYIB

“Abis Lebaran sepi, dak kayak puasa kemaren masih mendinglah,” ungkap Sahrial saat dijumpai Jambi Ekspres (Jawa Pos Group).

Sahrial, ayah empat orang anak ini masih setia menunggu datangnya orderan siang itu. Ia merupakan satu dari 3 pria yang berprofesi sebagai penggosok baju.

Di tengah kepadatan Pasar Sitiminang ini memang masih terdapat pria-pria yang setia menerima jasa setrika baju dengan setrika arang.

Disebuah lorong kecil, berdekatan dengan pedagang pernak-pernik keramik, Sahrial bersama rekannya mangkal. Namun hari itu, Sahrial memang tengah sendiri. Usai lebaran, temannya belum kembali membuka jasa setrika.

Sesekali pria kelahiran tahun 1965 ini melihat-lihat kearah arang setrikaan arangnya yang tengah membara. Setrikaan ini memang selalu standby dengan bara api yang menyala, sebab sewaktu-waktu ada saja orderan setrika baju yang datang.

“Sejak ado laundry tuh kami sepi, paling orderan datang dari tukang jahit sekitar sini,” jelasnya.

Meski begitu, diakui Sahrial selalu ada saja orderan setrika baju yang berdatangan. Tak tanggung-tanggung terkadang orderan setrika yang Ia terima juga dari orang-orang penting Kota ini.

Dari para tukang jahit yang menjadi relasi usahanya, Sahrial mengakui pernah menggosok beberapa baju dari pejabat.

“Macam-macam lah yang sering gosok sini, pejabat juga ado, polisi sampai baju Bupati jugo pernahlah. Tapi bukan mereka datang langsung, dari tukang jahitnyo,” tegasnya.

Disela-sela mengobrol santai dengannya, terlihat seorang wanita yang hampir seusia Sahrial mendekatinya.

Perempuan berkerudung itu langsung memberikan satu steel pakaian pria kepada Sahrial. Tak ada basa-basi, Sahrial langsung menerima baju tersebut dan secepat kilat mengambil setrika arangnya yang dari tadi tertonggok diujung meja kerjanya.

“Yo ginilah, paling banyak dari tukang jahit,” katanya sambil menggosok baju tersebut dengan hati-hati.

Sejak tahun 1987, Sahrial memang telah memulai jasa setrika baju dengan arang ini. Meski sudah berjalan lama, jasa ini tidak begitu saja membuat kehidupan ekonomi Sahrial berubah.

Sekali setrika, Sahrial menerima upah Rp 3 ribu sampai Rp 4 ribu. Sedangkan dalam sehari penghasilan yang ia dapat berkisar Rp 30 sampai Rp 40 ribu.

Meski saat ini jasa laundry semakin marak, namun Ia yakin akan selalu ada masyarakat yang meminta untuk disetrika pakaiannya dengan setrika tradisional ini.

Alasannya beragam, kebanyakan pelanggan mengatakan setrika arang ini membuat pakaian jauh lebih rapi dan tidak membuat warna pakaian pudar.

Usai menyelesaikan orderan setrikaanya, Sahrial kembali mengorek-ngorek arang yang membara di dalam setrikaannya.

Melihat fisik setrikaan miliknya itu sudah dipastikan setrikaan itu sudah lama Ia miliki. Benar ternyata, ketika ditanya Ia langsung menjawab bahwa tutup setrikaan miliknya sudah bolong.

Untuk mengantisipasi rasa panas ketika menggosok pakaian, Sahrial mengganti tutupnya dengan aluminium. Setrikaan arang yang beratnya hampir 8 kilo ini ternyata memiliki harga fantastis.

Berbeda dengan sterika listrik yang bisa dibeli dengan harga Rp 100 ribuan, setrika arang tradisional ini dijual dengan harga Rp 3 juta untuk saat ini.

“Belinya di Bukit Tinggi, hargonyo sekarang mahal sampai Rp 3 jutaan. Makonyo sayo dak beli, mahal sekarang tutupnyo bae yang sayo elokin,” terangnya.

Dari hasil menyetrika ini, Sahrial mengatakan hanya cukup untuk makan dan biaya sekolah putri bungsunya yang saat ini duduk dibangku SMK.
(nas/JPG/sdf)



loading...

Feeds

3.457 Mahasiswa USU Diwisuda

"Dari 3.457 orang lulusan USU tersebut ini terdiri dari 1.248 orang pria (36,10%) dan 2.209 orang wanita (63,90%)," sebut Runtung.