Kisah Masitoh Ritonga, Korban Luka Akibat Gempa di Padangsidimpuan

Masitoh dirawat di rumah sakit usai tertimpa reruntuhan akibat gempa.
foto : Metro Tabagsel/JPG

Masitoh dirawat di rumah sakit usai tertimpa reruntuhan akibat gempa. foto : Metro Tabagsel/JPG

POJOKSUMUT.com, GEMPA 5,5 SR yang mengguncang Padangsidimpuan dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Jumat (14/7/2017) membuat puluhan rumah rusak dan satu orang warga terluka.

Dia adalah Masitoh Ritonga, warga Desa Sitaratoit, Kecamatan Angkola Barat, Kabupaten Tapsel. Beruntung, ia selamat dari reruntuhan bangunan rumahnya.

Saat gempa, Masitoh tertimpa reruntuhan. Tak berselang lama, Masitoh ditemukan anaknya lalu mendapatkan perawatan dari bidan desa setempat. Dan akhirnya, dirawat di RSUD Kabupaten Tapsel, Sipirok.

Ditemui awak media ini, Masitoh ditemani anaknya Zulfahmi Rambe (42), sambil menahan sakit akibat luka di kepala dan kaki kanan, bercerita, pagi itu seperti pagi biasanya.

Ia memasak nasi di dapur. Lantas, ada guncangan gempa yang cukup kuat. Kemudian, ibu yang tinggal di rumah bersama tiga anak lajangnya, berlari menuju pintu untuk menyelamatkan diri. Namun, tiba tiba bagian plafon rumah runtuh menimpanya.

“Nauboto be sanga bia, (tak tau aku lagi apa yang terjadi). Selanjutnya saya sudah diangkat oleh anak saya,” ungkapnya.

Zulfahmi Rambe (42) menceritakan, ibunya tinggal di rumah bersama 3 adiknya yang masih lajang (1 perempuan dua laki-laki). Saat gempa menguncang, adik-adiknya berhamburan, bersama warga lainnya.

Beberapa saat kemudian, ketiga adiknya tersadar tidak melihat ibunya. Kemudian, kembali bergegas mencari ke dalam rumah yang sebagian sudah rusak akibat gempa. Dan, ibunya ditemukan di bawah reruntuhan plafon rumah dan sedikit batubata.

“Selanjutnya, ibu dibawa ke bidan dan langsung ditangani,” sebut Zulfahmi.

Atas saran Camat Angkola Barat Maruhum Hot Taufik, ibunya dibawa ke RSUD Kabupaten Tapsel di Sipirok untuk memastikan luka yang dialaminya akibat musibah tersebut. “Alahmdulillah, sudah ditangani dengan baik,” pungkasnya.

Kondisi panik lainnya terjadi di salah satu sekolah Proses Belajar Mengajar (PBM) sedang berlangsung.

“Sekolah yang berlantai dua dipulangkan duluan untuk mengantisipasi hal yang tidak dinginkan (gempa susulan). Kita memulangkan siswa karena kekuatan gempa sudah mengkhawatirkan, buku yang diatas rak lemari dan dispenser berjatuhan,” ujar Kabid Dikdas Erwinsyah Nasution mewakili Kepala Dinas Pendidikan H Muhammad Luthfi Siregar, ketika diwawancarai Harian Metro Tabagsel, Jumat (14/7/2017).



loading...

Feeds