Curhat Korban Kebakaran di Jalan HM Yamin : Kalau Jam 12 Malam, Nyawa Kami Melayang

Rumah-rumah warga di Gang Lurah rata dengan tanah.
foto : nin/pojoksumut

Rumah-rumah warga di Gang Lurah rata dengan tanah. foto : nin/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kebakaran yang terjadi Jalan HM Yamin Lingkungan VIII dan IX Kel Sei Kera Hilir 2 Kecamatan Medan Perjuangan, pada Kamis (20/7/2017) malam, menyisakan duka mendalam bagi warga sekitar.

Pasalnya, sebagian rumah-rumah hangus dan nyaris rata dengan tanah. Sementara yang lainnya hanya menyisakan dinding yang tak utuh lagi. Ya, kebakaran tersebut telah menghanguskan sekira 41 rumah, sementara dua rumah lainnya bagian dapurnya ikut terbakar.

Jumat (21/7/2017) sore, seorang perempuan akrab disapa Elok (53) duduk di depan bangunan rumahnya nomor 34 yang tinggal puing. Mata janda delapan anak ini masih merah tanda menangis.

Dia ternyata tak sendiri, penduduk lainnya di Gang Lurah wilayah paling padat itu melakukan hal yang sama.

Mereka duduk, memerhatikan rumah dan sesekali menangis. Terlebih, warga lainnya datang dan saling bersalaman dan mengungkapkan duka. Momen seperti ini membuat para korban terharu dan tangis kembali pecah.

“Tak ada lagi yang tersisa. Semuanya habis. Enggak ada yang terselamatkan, apinya cepat menyebar. Kejadian jam sepuluhan, seandainya jam dua belas malam, nyawa kami bisa melayang. Seandainya tadi malam kami sudah terlelap, tidak akan sempat menyelamatkan diri,” ujarnya kepada Pojoksumut.com.

Maka dari itu, nenek dua cucu ini masih mensyukuri nyawanya serta anak-anaknya masih terselamatkan.

Pun demikian, sesekali dia menyinggung soal berkas yang terbakar. Dia takut ijazah sekeluarga yang ikut terbakar akan mempersulit anak-anaknya untuk mencari kerja. Apalagi, si bungsu masih sekolah SMA. “Bisa diurus lagi itu nanti kan ya,” tanyanya.

Elok sendiri sudah berpakaian cukup rapih dengan kaos dan celana panjang. Dia mengaku baju yang dipakainya adalah pemberian orang yang singgah ke posko kebakaran di lokasi. “Kalau baju bekas banyak tadi di posko, makanpun ada, cukup di posko,” lanjutnya.

Hanya saja, dia kembali khawatir tentang masa depan tempat tinggalnya.



loading...

Feeds