Tolonglah, Pak! Garam Melambung, Perebus Ikan di Sibolga Berhenti Beraktivitas

Tempat warga menjemur ikan asin tampak lowong karena harga garam naik.
Foto : Milson Silalahi/newtapanuli/JPG

Tempat warga menjemur ikan asin tampak lowong karena harga garam naik. Foto : Milson Silalahi/newtapanuli/JPG

POJOKSUMUT.com, SIBOLGA-Melambungnya harga garam membuat para pembuat ikan asin termasuk perebus ikan menjerit. Yang sebelumnya Rp300 ribu per sak untuk ukuran 50 kg, ternyata pada Kamis (27/7/2017) sudah menyentuh di harga Rp333 ribu per sak.

“Kita tidak tahu apakah ada penyimpanan garam sehingga harga terus melonjak. Kondisi ini tentunya sudah membinasakan usaha perebusan ikan kami. Tolong kami, Pak,” kata anggota ikan Mantap, antara lain Bisman, Afdal, Ali, Rijal, Gono dan Ucok Bete saat ditemui di gudang Mantap Jalan KH A Dahlan Sibolga.

Menurut mereka, saat ini harga garam sudah lebih mahal dibanding harga ikan yang merupakan komoditi pokok dari perebusan ikan. Dan, ikan yang akan dijadikan ikan rebus kering adalah ikan segar yang masih akan direbus dan dikeringkan.

“Kenaikan harga garam yang saat ini menyentuh harga Rp333 ribu . ukuran 50 kg sudah mematikan usaha perebusan ikan. Kami meminta kepada Pemko atau DPRD Sibolga agar kami para perebus ikan dapat dibantu dan diberi solusi terkait tingginya harga garam ini, sehingga kami dapat bertahan minimal bisa hidup dari perebusan ikan ini,” jelas Ucok.

Dikatakan, jika harga tak bisa diturunkan, mereka berharap agar harga ikan rebus dapat naik sehingga dapat menutupi beban operasi dari harga garam yang tinggi.

“Sebab, dalam setiap melakukan perebusan ikan, selain harga garam yang sudah sangat tinggi, kita juga dilema harus membayar biaya ikan sebagai bahan pokok, gaji pekerja, sewa tempat, kayu bakar, tukang pilah dan keranjang, yang tentunya menambah biaya operasi perebusan ikan. Kalau dulu masih bisa merebus ikan sebanyak 1 ton. Saat ini kami hanya mampu maksimal merebus ikan sebanyak 300 kg. Apalagi hasil yang didapat dari sana?” kata mereka.

Menurut Bisman, walau masih ada perebus ikan beroperasi, hanya sebatas itu-itu saja, apalagi jika harga ikan melonjak, tentunya kesanggupan masyarakat untuk membeli ikan menjadi rendah. Sementara, biaya operasi tinggi, terutama harga garam yang tinggi, sangat berpengaruh pada hasil penjualan ikan rebus.

“Jika harga garam sampai menyentuh Rp400 ribu per zak lagi, kita tidak tahu lagi dan rencananya rekan-rekan akan banyak yang beralih profesi. Bahkan rekan-rekan perebus ikan sudah berniat mogok merebus ikan jika memang kondisi ini tidak berubah. Oleh karena itu, kami minta tolong kepada pemerintah, bantulah kami. Minimal, kalau tidak dapat menekan harga garam, apa solusi untuk dapat tetap menghidupkan usaha kami ini untuk bisa tetap merebus ikan dan dapat menghidupi anak istri kami,” pinta mereka.

Ali menambahkan, jika memang para perebus ikan berhenti, tentu akan menimbulkan masalah sosial.

“Kami di sini ada 7 kelompok perebus ikan. Satu sudah tidak beraktivitas lagi, sementara enam yang lainnya hanya dapat beroperasi seadanya saja. Paling maksimal hanya dapat merebus ikan 200 kg. Padahal, sebelumnya dapat merebus ikan 1 ton lebih,” kata Ali.

Mereka mengakui, beberapa bulan lalu, DPRD Sibolga sudah memfasilitasi para perebus ikan dengan Pemko Sibolga untuk mencari solusi kenaikan harga garam ini. Namun hingga saat ini tidak ada aksi, bahkan harga garam justru sangat melonjak.

“Untuk itu, tolonglah, Pak, agar kami diperhatikan, terutama untuk menghidupi keluarga,” ujar mereka.

Wakil Ketua DPRD Sibolga Hendra Saputra yang beberapa bulan lalu memfasilitasi pertemuan perebus ikan dan Pemko Sibolga di kantor DPRD Sibolga saat dikonfirmasi tentang lonjakan kenaikan harga garam hanya bisa mengaku prihatin.

“Dengan lonjakan harga garam ini, sebenarnya sudah sangat perlu dilaksanakan operasi pasar yang melibatkan pihak kepolisian, Disperindag dan unsur terkait lainnya,“ ujar Hendra.

Dia khawatir, ada yang bermain-main dalam perdagangan garam ini, karena hanya dalam beberapa bulan saja, yang sebelumnya hanya sekitar Rp56 ribu per sak, saat ini sudah hampir mencapai Rp400 ribu.

“Ini perlu ditindaklanjuti dengan melaksanakan operasi pasar yang sifatnya gabungan melibatkan semua pihak. Ini akan dikoordinasikan dulu dengan Pemko Sibolga, terutama disperindag,” jelasnya.



loading...

Feeds