Filosofi Rakyat di Sepiring Nasi Goreng SBY-Prabowo

POJOKSUMUT.com, CIKEAS-Nasi goreng di antara pertemuan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto masih menjadi hal yang diperbincangkan. Sebab, nasi goreng itu seakan menjadi akat diplomasi.

Peneliti Sosial Politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Ubedilah Badrun berpandangan nasi goreng yang disajikan SBY di kediamannya, Puri Cikeas, Bogor, mau memberi kesan kepada publik bahwa pertemuan tersebut adalah pertemuan untuk menangkap pesan rakyat.

“Nasi goreng adalah makanan rakyat, apalagi harga nasi gorengnya disebutkan sekitar dua belas ribuan,” sebutnya melalui pesan singkat, Minggu (30/7).

SBY juga ingin memberi kesan kepada publik bahwa dirinya memahami salah satu makanan kesukaan Prabowo. “Ini menunjukan kesan pertemuan yang hangat, sehingga terlihat suasana yang santai,” ujarnya.

Nasi goreng SBY pun disambut baik Prabowo yang mengatakan bahwa intelnya Presiden ke-6 RI itu masih kuat. Itu memiliki makna bahwa Prabowo menilai SBY masih memiliki kekuatan jaringan penting dalam membaca dan memahami perkembangan politik saat ini. “Oleh karenanya tidak bisa dianggap enteng,” tutur Ubedillah

Terkait pertemuan keduanya, meskipun mereka mengatakan itu pertemuan biasa, dia malah menilai itu semacam pertemuan penjajakan yang strategis merespon problem politik aktual. Mereka juga nampak serius membahas kontestasi politik 2019.

Pertemuan mereka kemarin kata Ubedilah pasti tak lepas dari mendiskusikan posisi calon wakil presiden dari Partai Demokrat untuk mendampingi Prabowo. Tetapi pertemuan yang digelar Kamis (27/7) itu belum mencapai satu kesepakatan.

Oleh sebab itu akan ada pertemuan-pertemuan berikutnya untuk membahas agenda politik 2019.

Menurut Ubedilah, baik SBY dan Prabowo nampaknya bersemangat untuk kerja sama mengalahkan Joko Widodo pada 2019. Tentu saja kerja sama itu memerlukan duduk bersama kembali dengan partai lain yang sehaluan dalam beberapa isu terakhir seperti PKS dan PAN.

“Biasanya SBY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat akan bekerja sama jika secara politik lebih menguntungkan bagi masa depan partainya,” pungkas Ubedilah.

(dna/JPC/sdf)



loading...

Feeds