Mengenal Suku Tradisional Wamena, Punya Istri Lebih dari Satu, Rumah Adat Dibangun tanpa Bilik

Lusi Lokobal (kiri) bersama penulis di lantai dua honai miliknya. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

Lusi Lokobal (kiri) bersama penulis di lantai dua honai miliknya. (GUSLAN GUMILANG/JAWA POS)

POJOKSUMUT.com, BIARPUN di beberapa aspek sudah modern, namun masyarakatnya masih memegang adat istiadat. Bagi mereka tradisi lokal adalah harga diri yang harus dipertahankan.

Bumi adalah mama yang melahirkan kehidupan. Dekat dengan bumi adalah keharusan. Perkenalan dengan Lusi Lakobal membawa saya merasakan sehari-hari menjadi masyarakat Wamena. Tepatnya di Distrik Asolokobal. Letaknya 45 menit di tempuh dengan mobil dari Kota Wamena.

Lusi merupakan istri keempat dari tujuh istri kepala suku di Distrik Asolokobal, Moke Lanni. Sehari-hari, dia bekerja di kebun dan bersama istri kepala suku bertugas untuk memasak dan mengurus honai. Sesekali dia ke Kota Wamena untuk membantu salah satu dokter.

“Kita ke dekat gunung itu,” katanya sambil menunjuk sebuah bukit kecil di sisi utara Kota Wamena. Katanya, perjalanan sekitar satu jam menggunakan mobil. Lusi tidak hanya sendiri, dia bersama dengan Sarina Wetipo dan Nenek Nyesaleke. Sarina adalah istri ketiga Moke Lanni. Mereka bertiga ke kota untuk kontrol katarak mata Sarina dan Nenek Nyesaleke.

Sepanjang perjalanan, jalan tak rata. Sebagian malah jalan tanah atau batu. Mobil harus pelan-pelan. Selain jalan yang tidak bagus, takut babi lewat. Bisa celaka ketika ada babi yang tertabrak. Ganti ruginya mahal sekali. Untuk babi betina dihitung per puting susu. Bisa sampai Rp30-an juta.

Nenek Nyesaleke rupanya baru pertama kali naik mobil. Dia yang duduk di belakang tak tenang. Tidak mau senderan kursi. Tangannya menggenggam erat kursi tengah. “Nenek mau gula-gula kah?” tanya saya yang kemudian diterjemahkan oleh Lusi.

Nenek Nyesaleke yang katanya berusia 70 tahun itu tidak bisa berbahasa Indonesia sama sekali. Nenek menganggukkan kepala. Saya beri dua gula-gula atau permen, tapi dia tetap masih terlihat panik. “Kata Nenek, ‘nanti malam saya pasti mimpi (buruk)’,” Lusi menerjemahkan ucapan Nenek Nyesaleke.

Mobil semakin masuk ke pedalaman. Jalan aspal sudah jauh di belakang. Kanan-kiri ilalang. Satu-dua rumah dilewati. Di depan jalan sudah buntu. Ada pagar memalangi jalan. Lalu, di mana rumah Lusi? Di sini tidak terlihat satu rumah pun. Hanya satu bangunan di balik pagar yang saya yakini bukan rumah Lusi. Sebab, rumah Lusi merupakan rumah adat Papua atau honai.

Laki-laki gimbal keluar. Di tangan kirinya ada parang. Duh! Dia membukakan pagar kayu. Mobil masuk. Lelaki itu bernama Tele. Adik kandung Lusi. Tele mempersilakan mobil masuk dan mengarahkan agar mobil muat di jalan tanah yang tak lebih dari empat meter.

“Kita jalan tak jauh ya,” kata Lusi. Dia kemudian jalan di depan kami. Jalan setapak yang ditujunya. Agak masuk, ada sungai kecil. “Ini bisa diminum langsung. Dingin,” tuturnya saat melewati jembatan. Air sungai itu memang bening.

Dia menuntun kami ke jalan yang lebih kecil. Kanan-kirinya ditumbuhi ilalang setinggi lutut. Pada salah satu tanjakan, ada tanah yang sudah dibersihkan dari ilalang. Luasnya kurang lebih 7×10 meter. Menurut cerita Lusi, tanah itu akan dijadikan masjid oleh kepala suku. Kepala suku memang beragama Islam. Selama ini untuk menjalankan salat, harus ke kampung sebelah yang jaraknya cukup jauh.

Perjalanan dilanjutkan. Kali ini kami harus melompati pagar kayu setinggi satu meter. Pagar tersebut digunakan untuk membatasi wilayah honai yang dimiliki oleh satu keluarga. Memang tidak ada jalan memutar. Jalan setapak itu satu-satunya.



loading...

Feeds