Pendiri Situs Lelang Perawan yang Dikecam Blak-blakan Seperti Ini

Aris Wahyudi
foto : Jawa Pos.com

Aris Wahyudi foto : Jawa Pos.com

POJOKSUMUT.com, SITUS nikahsirri.com menjadi perbincangan hangat sejak kemarin. Ya, lantaran jasa lelang keperawanan yang ditawarkan via online.

Alhasil, banyak reaksi keras yang datang termasuk dari Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana.

Aris Wahyudi, pendiri situs menghebohkan ini blak-blakan kepada JawaPos.com, saat ditemui Sabtu (23/9/2017) siang di rumahnya, Bekasi.

Pria asal Cilacap, 49 tahun silam itu mengungkapkan, ide pembuatan situs nikahsirri.com berawal dari keprihatinannya terhadap kemiskinan. Dia lantas berpikir keras, bagaimana bisa membantu orang-orang yang berada di garis kemiskinan untuk mendapat hidup lebih baik.

Lantas, muncullah ide membuat nikahsirri.com. Menurutnya, melalui media sosial besutannya itu, keluarga yang kurang mampu dapat menggunakan asetnya. Yakni, anak perempuan mereka sebagai pemasukan untuk keluarga melalui sebuah lelang (yang katanya) halal.

“Idenya muncul karena kita ingin membuat sebuah program pengentasan kemiskinan dengan konsep kemandirian menggunakan aset yang dimiliki masing-masing keluarga kurang mampu itu,” kata Aris kepada JawaPos.com.

Bapak tiga anak itu, bersama rekannya terinspirasi dengan sejarah zaman penjajahan Belanda dulu. Saat itu, tradisi lelang perawan begitu marak dan dikenal. Kalau istilah Jawanya, budaya itu disebut dengan buka kelambu.

“Kita juga belajar dari sejarah bahwa zaman dahulu ada budaya buka kelambu. Sebenernya lelang perawan juga. Terjadi kalau nonton film sang penari,” jelas dia.

Lebih lanjut dia menjelaskan, pola lelang perawan disebutnya masih terjadi di Jawa Tengah. Tentu saja, dengan cara yang lebih tertutup. ’’Dari Zaman Belanda sampai sekarang, di Jawa Tengah masih sering terjadi. Di Banyumas tepatnya,” tambahnya.

Atas dasar itulah, dirinya akhirnya meneguhkan pendirian untuk tetap menjalankan niatnya dalam mendirikan nikahsirri.com. Tujuannya? untuk mengangkat kembali budaya masa lalu itu.

“Kemudian saya berpikir dengan rekan-rekan, sebenernya kita mengangkat kembali budaya Indonesia. Yaitu, budaya lelang perawan yang istilahnya itu buka kelambu,” pungkasnya. (cr4/JPC/nin)



loading...

Feeds