Petani Ini Memilih Bunuh Diri, Isi Suratnya Bikin Miris

Warga berkumpul di rumah korban/
foto : New Tapanuli/JPG

Warga berkumpul di rumah korban/ foto : New Tapanuli/JPG

POJOKSUMUT.com, TOBASA-Keputusasaan Kristian Sihaloho (29) memuncak. Dia tak lagi berpikir jernih dan memilih mengakhiri hidupnya.

Penyebab utamanya di duga karena dalam tekanan kesulitan ekonomi. Di sekitar lokasi penemuan jasad korban, ditemukan surat yang diduga ditulis korban sebelum mengakhiri hidupnya.

“Aku tidak butuh apa-apa lagi di dunia ini. Aku hanya ingin kalian semua anak-anak aku jadi orang sukses, biar gak seperti aku ini hanya budak yang tidak tau diri.”

Demikian sepenggal surat yang diduga ditulis almarhum Kristian Sihaloho sebelum dia nekad gantung diri. Warga Dusun 1 Lumban Sirait, Desa Sigapiton, Kecamatan Ajibata, Kabupaten Tobasa itu ditemukanm tergantung dengan tali ayunan di ruang tengah rumahnya, Rabu (4/10/2017) sekira pukul 06.00 WIB seperti dilansir New Tapanuli (Jawa Pos Gorup) hari ini.

Orang pertama yang melihat jasad korban adalah istri almarhum, H br Gultom. Saat bangun pagi, H br Gultom kaget menyaksikan suaminya yang tergantung di ruang tengah. Menyaksikan kejadian itu, dia segera memanggil tetangga untuk menurunkan korban. Sayang, suaminya tak lagi bernyawa.

Selain tulisan di kertas, almarhum juga meninggalkan pesan melalui tulisan dalam kaos oblong warna putih yang berbunyi: “Hati yang terluka, siapa aku ini 7 haloho naso marina marama apa budak bukan manusia pelengkap saja aku. Seorang budak kasih kerja biar bisa makan. Aku bukan apa2 di dunia ini hanya orang yang tak tau diri.”.

Informasi dihimpun, almarhum sudah sering bertengkar dengan istrinya diduga akibat faktor ekonomi. Bahkan almarhum dengan istrinya sudah satu minggu tidak bertegur sapa, meski mereka masih tinggal dalam satu rumah.

Seperti pengakuan Kepala Desa Sigapiton J Efentus Gultom. Melalui telepon selulernya, Efentus mengakui bahwa almarhum dengan istrinya pernah bertengkar.

“Biasalah, masalah keluarga. Tetapi si korban langsung mengambil jalan pintas dengan cara bunuh diri,” katanya.

Kapolsek Lumban Julu AKP Hermansyah melalui Kanit Reskrim Iptu D Habeahan membenarkan kejadian itu. Menurutnya, kejadian itu diyakini murni bunuh diri dibuktikan dengan barang bukti yang ditemukan.

“Pihak keluarga sudah membuat surat pernyataan tidak bersedia diotopsi, yang ditandatangani istri almarhum, mertuanya serta Kepala Desa Sigapiton,” tandasnya.

Diketahui, almarhum selama ini menghidupi istri dan 3 orang anaknya dengan bertani. Diduga karena himpitan ekonomi, almarhum nekat mengakhiri hidupnya dengan cara gantung diri saat istri dan anak-anaknya sedang terlelap. (ft/os/ara/nt/jpg/nin)



loading...

Feeds