Ini Data Lengkap yang Diperoleh FBI Terkait Korupsi E-KTP yang Menjerat Setya Novanto

Setya Novanto

Setya Novanto

 

POJOKSUMUT.com, LA– Media Amerika Serikat West Hollywood (WeHo) Ville belum lama ini kembali menurunkan artikel tentang Johannes Marliem. Media terbitan Hollywood itu membeber kasus dugaan penyuapan yang dilakukan Marliem untuk melancarkan usahanya di Indonesia.

WeHo Ville melalui artikel berjudul ‘The Story Behind Johannes Marliem (aka ‘Bleugatti’) and His Death on Edinburgh Avenue’ membeber rasuah dari bos Biomorf Lone LLC itu kepada Ketua DPR Setya Novanto.

WeHo dalam berita itu mengutip agen Biro Penyelidik Federal (FBI) Johnathan Holden yang menyebut Marliem jelas memperoleh keuntungan dari penyuapan untuk memuluskan bisnisnya di Indonesia.

WeHo dalam berita itu mengutip agen Biro Penyelidik Federal (FBI) Johnathan Holden yang menyebut Marliem jelas memperoleh keuntungan dari penyuapan untuk memuluskan bisnisnya di Indonesia.

Holden mengungkapkan, Marliem selama 18 bulan bolak-balik bernegosiasi dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Marliem memutar rekaman, isinya antara lain adalah seorang pejabat Indonesia mendiskusikan angka suap hingga nilai kontrak,” ujar Holden.

Rasuah dari Marliem untuk Setnov -panggilan kondang Setya Novanto- berupa arloji mewah Richard Mille senilai USD 135 ribu atau kurang lebih setara Rp 2 miliar. Marliem membeli jam tangan mewah buatan Swiss itu di Beverly Hills.

Bahkan, Marliem juga mengaku kepada KPK tentang transfer uang USD 700 ribu. Penerimanya adalah anggota DPR periode 2009-2014 dari Partai Golkar Chaeruman Harahap.

“Marliem juga dilaporkan memperlihatkan dokumen elektronik dan foto-foto yang relevan kepada KPK, termasuk gambar-gambar jam tangan mewah yang dibelinya untuk kemudian diberikan kepada ketua parlemen Indonesia melalui mitra konspirasinya,” sambung Holden.

Menurut Holden, KPK sudah memberikan informasi ke FBI bahwa perusahaan milik Marliem, Biomorf Lone Indonesia menerima pembayaran sebesar USD 50 juta sebagai subkontraktor proyek e-KTP.

Dari jumlah itu, sebesar USD 12 juta bergeser ke rekening pribadi Marliem di bank Indonesia untuk ditransfer ke rekeningnya di bank Amerika Serikat.

Menurut seorang analis FBI, dalam transaksi keuangan Marliem di bank Wells Fargo antara Juli 2011 hingga Maret 2014 terdapat transfer sebesar USD 13 juta dari pemerintah Indonesia untuk pembayaran kontrak proyek kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP).

Namun, transfer itu dianggap janggal karena saldo sebelumnya di rekening Marliem hanya USD 49,62 atau sekitar Rp 670 ribu.



loading...

Feeds