Ini Data Lengkap yang Diperoleh FBI Terkait Korupsi E-KTP yang Menjerat Setya Novanto

Setya Novanto

Setya Novanto

Holden menambahkan, Marliem bertemu dengan investigator KPK untuk terakhir kali pada 6 Juli 2017 di Konsulat Jenderal RI. Saat itu, pendiri Marliem Marketing Group tersebut berjanji bakal memberikan kesaksian secara tertulis dan menyerahkan bukti-bukti elektronik tentang patgulipat dalam proyek e-KTP.

Marliem tentu saja meminta konsesi. Dia bersedia membuat kesaksian tertulis dan menyerahkan bukti-bukti elektronik kasus e-KTP asalkan tak dijerat KPK.

Namun, Marliem urung memenuhi janjinya. Sebab, dia mengaku sudah menghubungi seseorang di Indonesia yang mengingatkannya agar tidak memasok informasi dan bukti-bukti ke KPK kecuali sudah menerima jaminan pasti dari lembaga antirasuah itu.

Rupanya, Marliem makin tersudut karena FBI juga bergerak mengusutnya hingga anak Medan itu berusaha bersembunyi. Tapi, dua agen FBI berhasil menemukan Marliem di sebuah hotel di dekat Los Angeles International Airport (LAX).

Kepada agen FBI, Marliem mengaku terlibat dalam skema penyuapan kepada pejabat-pejabat di Indonesia terkait proyek e-KTP. Namun, dia membantah anggapan yang menyebutnya menyogok para pejabat Indonesia dengan uang yang diterimanya dari pembayaran proyek e-KTP.

“Ketika ditekan mengapa dia (Marliem, red) mengatur pembayaran secara tunai dan apa yang dilakukannya dengan uang tunai, dia tiba-tiba mengaku diperintah oleh seseorang untuk membayarkan USD 1 juta dari uangnya kepada satu perusahaan yang tak memperoleh kontrak e-KTP,” tutur Holden.

Agen FBI lantas mencecar Marliem tentang alasannya mau membayar USD 1 juta ke perusahaan yang bukan kontraktor e-KTP? “Penjelasannya hanya begitulah yang berlaku di Indonesia,” tutur Holden mengutip pengakuan Marliem.

Marliem akhirnya menyetujui FBI untuk menggeledah rumahnya di Minnesota. Bahkan, dia juga berjanji menyerahkan bukti-bukti-bukti yang dianggap terkait dengan penyelidikan FBI.

Tapi tak lama setelah bertemu agen FBI, Marliem justru ditangkap oleh Los Angeles Police Department (LAPD) karena kepemilikan senjata secara ilegal. Marliem menyimpan senjata ilegal di rumahnya di Edinburgh dan baru dilepaskan pada 8 Agustus 2017.

Pada 9 Agustus 2017, Holden menerima email dari Marliem yang isinya berupa ancaman bunuh diri dan berbagai tuntutan. Email itu pula yang membuat polisi mengepung rumah Marliem.

Akhirnya, Marliem ditemukan tewas akibat bunuh diri pada 10 Agustus 2017 dini hari. Sebelumnya, Marliem sempat menyandera istrinya, Mai Chie Thor dan putrinya.

Holden menjelaskan, Mai Chie Thor kini telah kembali ke Minnesota bersama putrinya. Mai Chie Thor adalah warga AS yang menikah dengan Marliem pada Juni 2017. Sedangkan Marliem menjadi warga AS pada 17 Oktober 2014.

(weho/ara/jpnn/jpg/sdf)



loading...

Feeds