Lihat Nih Piring Peninggalan Wali Songo Berusia 700 Tahun Dicuci

 Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE (tiga dari kiri) memaknai pencucian piring para wali bahwa setiap memulai ibadah harus bersuci dulu. (Istimewa/radarcirebon.com)

Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE (tiga dari kiri) memaknai pencucian piring para wali bahwa setiap memulai ibadah harus bersuci dulu. (Istimewa/radarcirebon.com)

POJOKSUMUT.com, Sembilan piring tapsi atau piring panjang peninggalan Sunan Gunung Jati dikeluarkan dan dicuci di Keraton Kasepuhan, Cirebon, Sabtu (25/11).

Tradisi pencucian piring-piring itu dinamakan Siraman Panjang sebagai rangkaian menyambut maulid Nabi Muhammad SAW.

“Yang dicuci sembilan piring wali, 40 piring pengiring, 2 guci, dan 2 gelas. Piring-piring itu dihiasi kaligrafi nama Allah dan kalimat toyibah,” ujar Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE.

Dijelaskan Sultan, Siraman Panjang merupakan tradisi turun temurun setiap tanggal 5 maulid. Sebagai rangkaian peringatan kelahiran Nabi Muhammad SAW atau di Cirebon dikenal dengan tradisi Muludan.

Selama ini, benda kuno tersebut disimpan di kamar pusaka Dalem Arum. Mulai tahun ini, benda tersebut disimpan di museum pusaka Keraton Kasepuhan.

Rangkaian siraman dimulai dari museum pusaka menuju ruang gebyog melalui Dalem Arum. Kemudian acara siraman berlangsung di Kaputren.

Tradisi ini dihadiri ribuan para wargi, abdi dalem, kaum mesjid agung, masyarakat magersari dan lainnya. Sudah menjadi tradisi, masyarakat berebut air bekas cuci pusaka ini untuk ngalap berkah.

“Tradisi siraman panjang penyucian 9 piring yang usianya sudah lebih dari 700 tahun. Sembilan piring tersebut adalah piring yang digunakan oleh para wali ketika melakukan musyawarah di Cirebon,” lanjutnya.

Abdi dalem Keraton Kasepuhan mencuci piring peninggalan wali songo. (Ist/Radarcirebon.com)

Upacara siraman panjang tradisi leluhur Kesultanan Kasepuhan menjelang acara puncak maulid nabi yang tahun ini akan diperingati tanggal 1 Desember mendatang. Sultan menjabarkan, makna dari siraman ini bahwa setiap ingin memulai kegiatan maupun ibadah harus bersuci dulu.

“Harus bersih, harus mandi, harus wudu, agar kegiatan dan ibadah kita diterima Allah SWT dan mendapatkan keberkahan,” jelasnya dilasir Radar Cirebon (Jawa Pos Group).

Setelah siraman panjang, ada prosesi buka bekasem ikan sebanyak 2 guci yang dipimpinh RA Syariefah Isye, permaisuri Sultan Sepuh XIV PRA Arief Natadiningrat SE. Bekasem ikan terdiri dari ikan kakap yang diberi rempah dan dimasukan guci selama satu bulan sejak tanggal 5 Safar dan dibuka pada 5 mulud.

“Bekasem ikan ini dicuci, kemudian dijemur dan kemudian dimasak di dapur mulud bersama nasi jimat yang akan dihidangkan pada upacara panjang jimat 12 mulud,” pungkasnya.

(yuz/jpg/JPC/sdf)



loading...

Feeds