Guru Besar FE UI: Indonesia Masih Negara Pengemis dan Peminjam



POJOKSUMUT.com, MEDAN-Guru Besar Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Indonesia (UI), Prof Anwar Nasution memberi kuliah umum di kampus Universitas Panca Budi (Unpab), Medan, Selasa (5/12/2017).

 

Dalam kuliah umum tersebut, mengangkat topik ‘Jalur Sutra Republik Rakyat Tiongkok dan Dampaknya Bagi Indonesia’.

Pada kuliah umumnya Prof Anwar Nasution menyampaikan, selama Indonesia belum mampu meningkatkan tabungan nasional dan penerimaan negara dari pajak. Negara ini masih akan tetap menggantungkan diri pada perolehan hibah dan pinjaman luar negeri.

“Sejak mulai merdeka 72 tahun lalu hingga saat ini, Indonesia masih merupakan negara pengemis dan peminjam di dunia internasional,” ungkapnya.

Menurut Anwar, inisiatif Republik Rakyat Tiongkok (RRT) akan memengaruhi perdagangan, sektor industri manufaktur dan turisme Indonesia. Turis dan penduduk RRT akan semakin banyak berkunjung dan bekerja di Indonesia.

“Pasar keuangan RRT yang semakin terbuka, ditambah dengan didirikannya lembaga-lembaga keuangan baru, akan semakin mudah bagi Indonesia mendapatkan santunan dan kredit. Tapi, pinjaman itu akan terus menjadi beban berat Indonesia,” kata mantan Deputi Senior Gubernur Bank Indonesia ini.

Beban pinjaman luar negeri itu, tambahnya, semakin berat karena sejak tahun 2004 pinjaman pemerintah Indonesia semakin beralih pada pinjaman dari pasar modal dalam negeri dan luar negeri dengan persyaratan komersial.

“Hanya pemerintah Jepang yang bersedia memberikan jaminan atas Surat Utang Negara (SUN) Republik Indonesia agar laku dijual di negaranya. SUN yang dijamin oleh pemerintah Jepang itu disebut sebagai ‘Samurai Bonds’,” tutur mantan Ketua Badan Pengawas Keuangan (BPK) RI ini.

Untuk itu, Anwar menyarankan Presiden Joko Widodo agar meniru RRT yang mampu membina rakyatnya menjadi produsen. Dia mencontohkan, Indonesia pengirim jamaah haji dan umrah terbesar di dunia. Tetapi, semua jamaah itu langsung berganti pakaian haji buatan RRT setelah mendarat di pelabuhan udara di Jeddah. Kecuali, warung-warung kecil, tidak ada restoran Padang, Kudus, Banjar maupun Soto Makassar di Tanah Suci.

“Ironis, jamaah umrah dan haji Indonesia di Arab Saudi justru jadi konsumen produk RRT. Mulai dari tasbih, kerudung, kopiah hingga sajadah, semuanya produk RRT yang dibeli jamaah Indonesia untuk oleh-oleh,” sebut pria kelahiran Sipirok 1942 ini.

Lulusan Harvard University Amerika Serikat ini menambahkan, pemerintah Indonesia tidak salah meniru Malaysia. Pantai Timur Pulau Sumatera dan sekeliling Pulau Kalimantan dan Pantai Barat Pulau Sulawesi dan sepanjang Laut Arafura di Papua, dapat dibangun untuk memanfaatkan Jalur Sutra.

“Penang mampu mengembangkan diri menjadi salah satu pusat elektronika terpandang di seluruh dunia. Semua garis pantai di sepanjang Selat Malaka mulai dari Penang hingga Johor, menjadi kawasan industri yang mengolah bahan baku dengan buruh kasar yang didatangkan dari Indonesia. Semua garis pantai di Pantai Timur Sumatera dan sekeliling Kalimantan dapat dijadikan itu, dapat dijadikan sebagai pengolahan sumber daya alam yang ada di daerahnya masing-masing dan pusat kawasan industri untuk keperluan ekspor melayani pasar yang sangat besar di Asia Timur,” sarannya.

Sementara itu, Rektor II Unpab,Hj Irma Fatmawati, dalam sambutannya saat membuka kuliah umum itu mengatakan, Jalur Sutra merupakan jalur perdagangan menghubungkan antara Timur dan Barat yang berdampak pada ekonomi global saat ini.

“Dengan kuliah umum kami berharap menambah wawasan mahasiswa khususnya FEB Unpab agar ke depan mampu membangun Indonesia khususnya Sumut,” kata Irma. (fir/pojoksumut)

 



loading...

Feeds