Kenaikan Tarif Tol Dinilai Belum Tepat

Tol Belmera
foto : jasamarga.com

Tol Belmera foto : jasamarga.com


POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kebijakan Jasa Marga yang menaikkan tarif tol, salah satunya Tol Belawan-Medan-Tanjung Morawa (Belmera) menuai kritik dari pelaku usaha transportasi dan pengamat ekonomi.

Tarif digulirkan berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang berlaku mulai 8 Desember 2017 dinilai belum tepat.

Rajamin Sirait, salah satu pengusaha jasa transportasi Sumut mengungkapkan, kenaikan ini memang tidak bisa dihindari. Namun, janganlah kenaikan ini terjadi pada akhir tahun. Sebab, sama-sama diketahui pada momen ini banyak yang perlu dipenuhi apalagi ada perayaan natal dan tahun baru.

“Tarif tol ini naiknya seharusnya menunggu momen yang tepat, misalnya pada awal tahun,” kata Rajamin yang dihubungi, Jumat (8/12/2017).

Menurut dia, kenaikan tarif tol ini jelas berdampak terhadap biaya transportasi dan distribusi barang. Dengan naiknya tarif tol tentu otomatis berdampak terhadap harga-harga yang akan ikut melonjak.

Ia menyebutkan, fasilitas dan layanan belum maksimal atau sesuai dengan tarif yang diberlakukan. Tak hanya itu, tingkat keselamatan dan juga lampu penerangan yang belum seluruhnya hingga kondisi jalan sendiri masih ada yang berlubang.

“Masih ada masyarakat yang bebas menyeberang di jalan tol. Hal ini jelas membahayakan keselamatan baik bagi pengendara maupun juga orang yang menyeberang sembarangan. Sebab, di jalan tol itu kecepatan kendaraan cukup tinggi,” tutur Rajamin.

Sementara, pengamat ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin menilai dalam kalkulasi bisnis, kenaikan tarif yang disesuaikan mengacu kepada besaran inflasi tersebut sudah benar. Artinya, tren kenaikan harga juga akan memberikan imbas pada perusahaan untuk menaikkan pendapatan.

Akan tetapi, pasti ada penolakan tentunya, khususnya bagi pengguna jalan tol. Namun, hal ini wajar karena memang kenaikan ini sudah barang pasti akan membebani pengguna jalan tol khususnya bagi dunia usaha.

“Menurut saya dampaknya itu kecil sekali, karena kontribusi ke inflasinya kurang dari 0,03 persen. Kenaikan tarif tol berkisar Rp500 hingga Rp1.500 belum akan memberikan dampak multiplier besar bagi kenaikan produk barang dan jasa,” sebut Gunawan.

Dia menambahkan, harapannya dengan kenaikan ini ada perbaikan pelayanan yang diberikan. Mulai dari infrastruktur pendukung yang mumpuni, hingga tidak ada macet saat masuk maupun keluar dari jalan tol. Hal itu yang bisa dijadikan kompensasi kenaikan tarif saat ini. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds

RSU Royal Prima Tambah Gedung Baru

Dipaparkannya, tercatat sedikitnya ada 59 rumah sakit umum dan 19 rumah sakit khusus, baik swasta maupun pemerintah yang telah berdiri …