Pesan Penting dari Nobar Film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak di Medan

Meutya Hafid berfoto bersama penonton dari berbagai komunitas usai nobar film Marlina Pembunuh dalam Empat Babak di Medan,  Minggu  (10/12/2017).
Foto : nin/pojoksumut

Meutya Hafid berfoto bersama penonton dari berbagai komunitas usai nobar film Marlina Pembunuh dalam Empat Babak di Medan, Minggu (10/12/2017). Foto : nin/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Perempuan di Sumatera Utara harus berani bersuara saat menjadi korban kekerasan baik seksual ataupun verbal.  Jangan diam!

 

Pesan inilah yang sebaiknya diserap puluhan penonton di acara nonton bareng (nobar) Film ‘Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak’ karya Mouly Surya di Medan,  Minggu (10/12/2017).

 

Meutya Hafid, Wakil Ketua Komisi DPR RI yang menggagas nobar ini menjelaskan sengaja memilih film ini karena banyak pesan-pesan yang baik bukan saja untuk perempuan tapi juga laki-laki.

“Perempuan yang ada dalam film ini mengajarkan agar tidak diam,  saat menjadi korban kekerasan.  Juga termasuk soal KDRT dimana pelakunya banyak laki-laki.  Ini perjuangan,” ujar usai acara.

 

“Jika perempuan jadi korban,  atau tetangga Anda,  silahkan lapor. Jangan diam, jangan disimpan, “ tegasnya.

 

Dia juga mengatakan Sumatera Utara sendiri termasuk daerah dengan tingkat  kekerasan dengan korban perempuan yang tinggi.  “Sehingga kita merasa pas dengan pemilihan film ini,” jelasnya.

 

“Saya satu-satunya anggota DPR RI dapil Sumut yang perempun.  Jadi ini tugas saya. Saya apresiasi produser (yang ikut hadir di nobar), LBH APIK dan Forum Jurnalis Perempuan Indonesia (FJPI), “ ungkapnya.

 

Film Marlina Pembunuh dalam Empat Babak yang syuting di Sumba,Nusa Tenggara Timur (NTT)  sendiri sukses di kancah manca negara. Film ini telah masuk seleksi Festival Film Cannes pada Mei lalu, New Zealand International Film Festival dan Melbourne Film Festival yang digelar pada Agustus, serta Toronto International Film Festival pada September.

 

Sang pemeran utama,  Marsha Timoty juga sukses memenangkan penghargaan mengalahkan Nicole Kidman di Spanyol.

 

Salah satu produser yang hadir di Medan,  Fauzan Zidni mengatakan film ini dibuat awalnya saat tiga tahun lalu dari ajakan Garin Nugroho. “Film ini fiksi tapi terinspirasi dari kejadian langsung.  Konon kejadian nyata ditulis cerita fiksi. Kami syuting di Sumba 10 hari dan di Jakarta 11 hari,” jelasnya.

 

Mengapa memilih Sumba?  Fauzan mengatakan selain pemandangan bagus,  juga kasus-kasus yang dihadapi perempuan di sana juga bagus diangkat.  Diantaranya,  soal perempuan yanh sudah dibeli orang pihak laki-laki,  juga tentang-tentang mitos jika perempuan yang hamil bayinya sungsang disebut hasil selingkuh.

 

Sementara itu,  Ketua LBH APIK Sumut, Sierly Anita mengakui kondisi di film ini benar adanya. Dimana kesulitan akses baik untuk pelaporan polisi dan lainnya.

 

“Sumba,  Papua juga sama kasusnya seperti ini,

ketika menangai kasus seksual seperti ini, para pendamping harus berhadapan dengan lokasi seperti ini.  Bahkan harus membawa parang panjang untuk menjaga diri dalam pendampingan, “ jelasnya.

 

Sierly sendiri mengakui  kasus kekerasan terhadap perempuan sering kali sulit terungkap karena menganggap hal itu adalah aib.
“Kita masih kurang sensitif gender.  Perempuan malah disalahkan meski jadi korban,” pungkasnya.  (nin/pojoksumut)



loading...

Feeds