Waspadai Penularan Difteri, Jangan Tiup Terompet Bergantian

Terompet
Foto : Youtube/Click zone

Terompet Foto : Youtube/Click zone

POJOKSUMUT.com, PERGANTIAN tahun biasanya dimeriahkan dengan suara terompet di mana-mana. Nah, bagi masyarakat harus waspada agar jangan sembarangan meniup terompet.

Pasalnya, saat ini tengah merebaknya penularan difteri.

Trompet bisa menjadi tempat penularan difteri. Spesialis medik mikrobiologi Universitas Indonesia dr Anis Karuniawati SpMK menyatakan, trompet bisa menjadi medium penularan difteri.

“Selama (berada di tempat) lembap, (bakteri difteri) masih bisa bertahan,” katanya.

Bahkan, pada keadaan kering pun, bakteri Corynebacterium diphtheriae bisa bertahan hingga dua hari sampai akhirnya mati.

“Meskipun kalau keadaan (bakteri difteri) teler, tapi kalau nempel di tenggorokan, bisa hidup lagi,” imbuhnya.

Difteri tidak hanya berbahaya bagi anak-anak. Menurut data yang dimiliki dr Nina Dwi Putri SpA(K) dari Divisi Infeksi dan Pediatri Tropis FKUI-RSCM, hingga 20 Desember ditemukan 12 pasien difteri yang berusia 20 hingga 50 tahun.

Data tersebut hanya di Jakarta. “Difteri dewasa mulai banyak,” ungkapanya.

Penyakit tersebut, menurut Nina, merupakan penyakit yang mudah menular.
Dia menyarankan, untuk kontak langsung dengan penderita difteri, jaraknya minimal 1,5 meter.

“Kalau ada suspect, harus diperlakukan seperti pasien difteri. Sampai akhirnya hasil pemeriksaan menyatakan tidak difteri,” ungkapnya.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kemenkes Elizabeth Jane Soepardi membenarkan bahwa difteri mudah menular kepada siapa pun.

Trompet bisa menjadi satu sarana. Dia menyarankan agar satu trompet diperuntukkan satu orang, tidak untuk ditiup secara bergantian.

“Menularnya paling kalau digunakan berpindah (bergantian). Ya, itu bisa, karena ludah kita menempel di mulut trompet. Penderita (difteri) kan tidak boleh tukar-menukar peralatan makan, sama saja kan salah satu penyebarannya bisa lewat air liur,” ungkap Jane.

Lebih lanjut, Jane mengatakan bahwa pemerintah sudah mengantisipasi untuk perawatan pasien difteri.

Misalnya untuk ruang isolasi. Pasien difteri memang harus ditempatkan di ruang khusus. Tidak dicampur dengan pasien lainnya.

“Ruang isolasi untuk difteri ruang biasa saja. Rumah pun bisa dijadikan ruang isolasi,” ujarnya. (lyn/c10/ang/jpnn/jpg)



loading...

Feeds