2018 Disebut Momentum Kebangkitan Ekonomi Sumut

ilutrasi
pixabay

ilutrasi pixabay

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Tahun 2018 disebut merupakan momentum pemulihan ekonomi di Sumatera Utara (Sumut). Saat ini, sedang berjalan tahap awal yang harus dijaga dan diperkuat, agar dapat tertransformasikan menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat, berkelanjutan, seimbang dan inklusif.

“Pada 2018 momentum pertumbuhan ekonomi Sumut memiliki potensi ke arah positif. Untuk itu, potensi yang ada harus dapat dimanfaatkan maksimal dan dijaga,” kata Pengamat ekonomi Sumut, Wahyu Ario, Jumat (5/1/2018).

Menurut dia, Pertumbuhan ekonomi Sumut pada 2018 diprediksi sekira 5,3 hingga 5,4 persen.

“Kita belum bisa mencapai angka 6 persen atau lebih, karena merupakan jangka panjang. Untuk itu, momentum tahun ini harus dijaga terus dan jangan sampai tidak. Apabila tidak dapat dijaga, maka Sumut akan menghadapi yang namanya ‘Middle Income Trap’, artinya pertumbuhan ekonomi hanya tumbuh sekitar 5 persen saja. Bisa dikatakan, Sumut tidak akan menjadi provinsi yang maju. Padahal, Sumut memiliki beragam potensi,” ungkap Ario.

Meski demikian, sambung dia, momentum positif kebangkitan ekonomi tersebut ada sedikit gangguan atau hambatan yaitu tahun politik. Sebab, pada tahun ini Sumut termasuk provinsi yang mengadakan pemilihan kepala daerah, baik itu gubernur, wali kota maupun bupati.

“Melihat pengalaman periode-periode tahun politik sebelumnya pada 2015, 2013 dan 2008, pertumbuhan ekonomi Sumut agak menurun. Hal itu terjadi lantaran konsentrasi pemerintah daerah kurang terfokus terhadap pertumbuhan ekonomi. Bisa dilihat, biasanya diduga incumbent itu bukan fokus ke pelayanan masyarakat tetapi malah bagaimana meraih kemenangan dalam pemilihan,” cetusnya.

Makanya, lanjut Ario, diharapkan hal itu tidak terjadi dan incumbent tetap mengutamakan pelayanan kepada masyarakat guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik lagi. Untuk itu, incumbent harus bisa membuktikan bahwa pada tahun politik tetap bisa mempertahankan laju ekonomi yang positif.

“Kalau 2018 ini kondisi ekonomi menjadi lebih buruk, maka sudah semacam tradisi. Artinya, ketika tahun politik, maka ekonomi Sumut terganggu. Memang selama ini terjadi tradisi itu, tetapi sedikit perlambatannya. Sekalipun kondisi ekonomi dunia kurang baik. Ini harus dibuktikan, ketika ekonomi ekonomi dunia bagus jangan sampai ekonomi Sumut hanya stabil atau bahkan melambat,” paparnya.

Ia menuturkan, dibanding provinsi lainnya secara nasional, Sumut itu termasuk yang rendah tingkat pertumbuhan ekonominya. Terbukti, berada pada posisi peringkat ke-19.

“Kalau melihat ekonomi Sumut apa sih yang kurang? Potensi sumber daya alam yang melimpah, posisi yang strategis, industri yang berkembang dan sebagainya. Jadi, kenapa pertumbuhan ekonomi Sumut kurang bagus dibanding provinsi lain dan ini harus menjadi perhatian,” tandasnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds