2018, OJK Optimis Kredit Perbankan dan DPK Tumbuh Hingga 12 Persen

OJK

OJK

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kantor Regional (KR) 5 Sumbagut optimis kredit perbankan dan Dana Pihak Ketiga (DPK) khususnya di Sumatera Utara (Sumut) tumbuh lebih baik. Hal ini seiring dengan membaiknya prospek ekonomi global dan domestik di 2018.

Kepala OJK KR 5 Sumbagut, Lukdir Gultom mengatakan, pihaknya optimis bahwa kredit perbankan pada tahun ini dapat tumbuh dalam rentang 10 hingga 12 persen. Demikian juga halnya dengan DPK yang diperkirakan mampu tumbuh dengan kisaran yang sama.

“Intermediasi perbankan tahun 2017 sudah mulai tumbuh ditunjukkan angka kredit perbankan yang telah meningkat sebesar Rp228 triliun. Sehingga, total kredit perbankan mencapai Rp4.605 triliun atau tumbuh sebesar 7,47 (yoy),” ungkap Lukdir baru-baru ini.

Menurut dia, deviasi pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan dengan target Rencana Bisnis Bank (RBB) 2017 sebesar 11,86% (yoy). Hal ini disebabkan oleh konsolidasi yang dilakukan perbankan nasional, sehubungan dengan risiko kredit termasuk melalui hapus buku terhadap kredit bermasalah terutama untuk segmen kredit berbasis komoditas beserta turunannya.

“Tingkat kredit/pembiayaan bermasalah secara umum juga masih berada dalam level yang terjaga, yakni sebesar 2,89 persen untuk perbankan dan 3,08 persen untuk perusahaan pembiayaan. Tingkat suku bunga perbankan, baik deposito maupun tingkat pinjaman menunjukkan tren menurun. Data sampai dengan November 2017 menunjukkan, fakta bahwa suku
bunga deposito 1 bulan rata-rata 5,72 persen, turun 64 bps dibanding tahun lalu dan suku bunga kredit rata-rata 11,45%, turun 72 bps dibanding tahun lalu,” bebernya.

Ia menuturkan, secara nasional OJK melihat bahwa stabilitas sektor jasa keuangan selama 2017 didukung oleh permodalan yang tinggi dan likuiditas yang memadai untuk mengantisipasi risiko dan mendukung ekspansi usaha.

Kinerja intermediasi sektor jasa keuangan juga berada pada level positif, terutama didukung oleh penghimpunan dana di pasar modal telah mencapai Rp257,02 triliun, melebihi target tahun 2017 sebesar Rp217,02 triliun. Untuk itu, OJK meyakini bahwa pasar modal domestik akan mampu meraup dana pembiayaan sebesar Rp253,94 triliun.

“Dari sisi pasar modal, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) cenderung menguat sepanjang tahun 2017 dengan volatilitas yang relatif rendah. IHSG pada tahun ini menembus level psikologis 6.000, dan hingga 20 Desember telah tumbuh sebesar 15,34 persen pada posisi 6.109,48,” sebutnya.

Dia melanjutkan, dari sisi syariah, kinerja industri keuangan syariah semakin positif. Aset perbankan syariah dan IKNB Syariah terus tumbuh membaik. Begitu juga kinerja industri pasar modal syariah yang terus bergairah.

Menurut Lukdir, deviasi pertumbuhan kredit perbankan dibandingkan dengan target Rencana Bisnis Bank (RBB) 2017 sebesar 11,86 persen (yoy). Hal ini disebabkan oleh konsolidasi yang dilakukan oleh perbankan nasional, sehubungan dengan risiko kredit termasuk melalui hapus buku terhadap kredit bermasalah terutama untuk segmen kredit berbasis komoditas beserta turunannya.

“Tingkat kredit/pembiayaan bermasalah secara umum juga masih berada dalam level yang terjaga, yakni sebesar 2,89 persen untuk perbankan dan 3,08 persen untuk perusahaan pembiayaan. Tingkat suku bunga perbankan, baik bunga deposito maupun tingkat bunga pinjaman menunjukkan tren menurun. Data sampai dengan November 2017 menunjukkan fakta bahwa suku bunga deposito 1 bulan rata-rata 5,72 persen, turun 64 bps dibanding tahun lalu dan suku bunga kredit rata-rata 11,45 persen, turun 72 bps dibanding tahun lalu,” paparnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, namun demikian pihaknya menyadari bahwa ke depan akan banyak tantangan yang dihadapi sektor jasa keuangan. Di antaranya kebutuhan pembiayaan pembangunan infrastruktur mengingat terbatasnya ruang pembiayaan dari APBN.

Kemudian, masih rendahnya size dan daya saing sektor jasa keuangan Indonesia jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan. Hadirnya financial technology yang berkembang cepat memerlukan kebijakan yang cepat dan tepat dari regulator.

“Program kebijakan sudah banyakyang dilakukan dalam upaya mendukung stabilitas sektor jasa keuangan, memberikan kontribusi pada pertumbuhan ekonomi nasional maupun dalam melindungi kepentingan konsumen. Harapan yang besar agar sektor jasa keuangan dapat menjadi solusi bagi upaya penurunan tingkat ketimpangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat, melalui upaya peningkatan literasi keuangan dan penyediaan akses keuangan bagi masyarakat luas,” jabarnya.



loading...

Feeds