Miris! Honor Guru Dipotong 75 Persen, Cuma Terima Rp10 Ribu

Bukti potongan honor guru di Tapteng.
Foto : Newtapanuli/JPG

Bukti potongan honor guru di Tapteng. Foto : Newtapanuli/JPG

POJOKSUMUT.com, TAPTENG-Nasib guru honor di Sosorgadong, Tapanuli Tengah (Tapteng) patut menjadi perhatian serius pemeritah setempat.

Pasalnya, informasi dihimpun dari sejumlah guru nonor, seyogianya mereka menerima Rp40 ribu per jam yang dibayar selama enam bulan tugas. Namun, justru ada potongan hampir 75 persen. Sejumlah guru honor hanya menerima Rp10 ribu hingga Rp12 ribu per jam dikali enam bulan.

“Para guru honor tak dapat berbuat banyak. Kita takut dipecat,” ujar salah seorang guru di SMAN di Sosorgadong kepada New Tapanuli (Jawa Pos Group), Rabu (10/1/2018).

Hal yang sama juga terjadi di SMKN 1 Sosorgadong, dimana para guru honor tak berani berbuat banyak atas pemotongan tersebut. “Saya tetap harus menerimanya karena saya butuh uang. Biarlah begitu,” ujar para guru yang tak mau dipublikasikan.

Guru lainnya, FM, pun menyampaikan hal ini kepada Ketua Forum Honorer dan berharap agar ketua dapat menyelesaikannya. “Kami adukan kepada ketua karena kami takut dipecat kalau kami yang langsung protes,” ujarnya.

Sementara, Sekjen Forum Honorer K2 Tapanuli Tengah Indra Sakti Hutagalung membenarkan laporan tersebut.

“Ya, sudah ada yang melapor ke kita tentang adanya potongan gaji honor yang dilakukan oleh beberapa orang oknum kepala sekolah. Gaji guru honor yang dibayar pemerintah provinsi melalui sekolah sudah terpotong setelah sampai kepada guru-guru yang bertugas di SMA dan SMK,” ujarnya.

“Kami tahu betapa besar kepedulian pemerintah, dalam hal ini Bapak Gubernur Sumatera Utara Tengku Erry Nuradi terhadap dunia pendidikan, namun ini telah ternoda oleh ulah sejumlah oknum kepala sekolah. Kami tahu bahwa honor yang Bapak berikan adalah semata-mata untuk mensejahterakan para guru honor,” ujarnya.

Bahkan, katanya, di sejumlah sekolah masih belum menerima honor dari pihak sekolah dengan alasan yang tidak jelas. Honor mereka diduga sengaja ditahan oleh kepala sekolah karena protes sejumlah guru.

Para kepala sekolah beralasan bahwa sejumlah guru honor sudah menerima dana komite selama enam bulan, sehingga saat honor provinsi datang, tidak disalurkan kepada para guru.

Melalui media ini, Forum Honorer K2 Tapanuli Tengah meminta kepedulian Gubernur Sumatera Utara atas kelakuan para kepala sekolah yang telah menyalahgunakan kebijakan.

”Saya atas nama Gidion Purba, Ketua Forum Honorer K2 Tapanuli Tengah, memohon dengan sangat agar Bapak Gunbernur serta instansi terkait, Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Inspektorat, penegak hukum, Ombudsman, untuk turun menindaklanjuti permasalahan ini,” pintanya.

Dia juga menegaskan bahwa pemotongan honor ini membuktikan pendidikan yang sudah hancur, sama hancurnya dengan moral para oknum kepala sekolah di tingkat SMA dan SMK di Tapteng. (gp/ara/nt/jpg/nin)



loading...

Feeds