Kontrol Harga Beras dan Inflasi Sumut, Ini yang Dilakukan Bank Indonesia

ilustrasi
pixabay

ilustrasi pixabay

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kenaikan harga beras mendorong laju inflasi Sumut tahun 2017 sebesar 0,15 persen.

Meski kecil, bobot nilai kenaikan harga beras bagi masyarakat Sumut cukup besar mencapai sekitar 50 persen. Lantaran, sebagian besar pendapatan masyarakat digunakan untuk membeli beras.

Kepala Bank Indonesia Sumatera Utara (BI Sumut) Arief Budi Santoso mengatakan, pihaknya sedang mengembangkan klaster tanaman padi berbasis organik.

Pengembangan tanaman yang diolah menjadi beras ini bertujuan untuk mengontrol fluktuasi harga beras itu sendiri dan pengaruhnya terhadap laju inflasi Sumut.

Pengembangan padi dilakukan melalui Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sri Karya di Desa Pematang Setrak, Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai). Hasilnya, terbilang sukses dengan menerapkan teknik budidaya padi berbasis organik yang memproduksi antara 7-8 ton per hektare.

“Gapoktan ini merupakan salah satu klaster padi organik bentukan BI Sumut. Tujuannya, untuk meningkatkan produksi padi sekaligus menekan harga beras,” kata Arief akhir pekan ini.

Diutarakannya, klaster padi tersebut bukan baru dimulai tahun ini. Melainkan, sudah dari beberapa waktu yang lalu. Hanya, kebetulan pada tahun 2017 harga beras naik dan memberi sumbangan inflasi Sumut.

“Gapoktan Sri Karya ini merupakan binaan dalam beberapa tahun belakangan. Selain ini, kami juga aktif membentuk klaster pangan di sejumlah daerah Sumut seperti bawang merah dan cabai merah. Klaster-klaster itu dibentuk untuk menekan laju inflasi,” tutur Arief.

Dia menyebutkan, dalam menjalankan misi menekan laju inflasi terus mendampingi petani, mulai dari proses pembenihan hingga pasca panen. Adapun bentuk pendampingan yang diberikan berupa pelatihan untuk meningkatkan kualitas SDM, pemilihan bibit yang tepat, menyediakan fasilitas untuk kelompok tani hingga memberikan bantuan alat-alat pertanian.

“Ini semua kami lakukan agar petani bisa meningkatkan taraf hidup mereka dengan memproduksi produk-produk pertanian berkualitas,” sebutnya.

Tak hanya pendampingan, sambung Arief, pihaknya juga membantu jangkauan pasar hasil produksi petani di sana dengan menggandeng pasar modern. Produk ini juga dijual di koperasi dan pengusaha binaan BI yang bergerak di e-commerce.

“Dengan penjualan langsung, harga hingga ke tangan konsumen relatif lebih murah. Biasanya,

harga beras organik berkisar Rp20.000 hingga Rp25.000 per kg. Namun, harga beras produksi petani di sana dijual dengan harga Rp15.000 per kg,” paparnya sembari menambahkan, pihak juga menginginkan masyarakat mengenal beras organik dan segala manfaatnya terhadap kesehatan.

Sementara, perwakilan Gapoktan Sri Karya, Parlan Sibarani mengungkapkan, beras yang diproduksi telah memperoleh sertifikat organik dan menembus jaringan salah satu ritel modern. Kata dia, tentunya ini merupakan salah satu langkah maju petani.

“Padi organik tersebut dibudidayakan dalam klaster seluas delapan hektare dengan produktivitas 7-8 ton per hektare. ′Nantinya lahan produksi akan diperluas dengan melibatkan kelompok tani lain,” katanya.

Menurutnya, membudidayakan padi organik membutuhkan usaha yang lebih besar dibanding sistem konvensional. Namun, hasilnya lebih memuaskan dari segi kualitas dan kuantitas. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds