Terkait Orderan Fiktif Ojek Online, Ini Tanggapan Polrestabes Medan

Supir Go-Jek Medan demo terkait upah beberapa waktu lalu

Supir Go-Jek Medan demo terkait upah beberapa waktu lalu

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Terkait laporan pengaduan orderan fiktif yang dilakukan pengemudi ojek online di Medan, Kasat Reskrim Polrestabes Medan AKBP Putu Yudha mengaku, jika masalah itu mau diusut agak sulit.

“Kalau orderan fiktif itu dinyatakan penipuan, misalnya salah seorang masyarakat dengan menggunakan akunnya memesan makanan via aplikasi ojek online, terus mitranya membeli barang pesanan tapi kemudian dibatalkan, nah mitra yang merasa merugi tadi harus bisa menunjukkan siapa yang memesan tadi,” kata Yudha.

Dia mempertanyakan masyarakat pengorder fiktif yang mana mau dilaporkan.

“Harus jelas, siapa yang melakukan penipuan itu,” ucapnya.

Menurut dia, bila karena orderan fiktif tadi mempengaruhi performa mitra sehingga menyebabkan insentif tak cair, hal itu sudah kebijakan perusahaan.

“Semisal nih aplikasi taksi online, mitra tidak mendapat insentif karena pengorder membatalkan pesanan mungkin karena suatu alasan, dan itu sudah suatu ketentuan dalam rangkaian bisnis. Harusnya perusahaan penyedia jasa transportasi online itu mengatur regulasinya sebaik mungkin agar tidak merugikan mitranya. Saya sendiri pernah itu, order tapi saya batalkan karena taksi online yang saya tunggu lama datangnya,” cetus Yudha.

Ia menambahkan, dirinya belum ada menerima laporan orderan fiktif tersebut.

“Belum ada saya terima, kalau diterima kita pelajari dulu masalahnya,” tukasnya.

Sebelumnya, sejumlah pengemudi ojek online di Medan membuat laporan pengaduan di Mapolrestabes Medan, kemarin. Laporan pengaduan yang dibuat lantaran mereka kerap dirugikan orderan fiktif.

“Kami mau mengadukan mengenai orderan fiktif yang kami alami sejak dua bulan lalu. Orderan fiktif itu sangat merugikan kami baik waktu dan uang,” ujar salah seorang pengemudi ojek online mengaku bernama Toni (32).

Dia menjelaskan, orderan fiktif ini hampir dialami oleh seluruh rekannya sesama pengemudi ojek online. Menurutnya, orderan fiktif itu merupakan bentuk penipuan yang harus diusut aparat kepolisian.

“Kami mengalami kerugian besar secara materil akibat penipuan ini. Penipuan yang dilakukan terhadap kami dengan modus Go-Send (antar barang) dan Go-Food (antar makanan). Bayangkan kalau makanannya sudah dibeli sementara orang yang memesan tidak bisa dihubungi,” terangnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds