Jadi Hub Internasional, Kuala Tanjung Bisa Raup 1 Juta Teus Peti Kemas

Pelabuhan Kuala Tanjung

Pelabuhan Kuala Tanjung

POJOKSUMUT.com, MEDAN-PT Pelabuhan Indonesia I (Pelindo I) memperkirakan Pelabuhan Kuala Tanjung yang sedang dibangun dan akan menjadi hub internasional dapat meraup keuntungan 1 juta teus peti kemas.

“Diyakini dalam 5 tahun, di sana bisa menghasilkan 1 juta teus peti kemas,” kata Direktur Utama Pelindo I, Bambang Eka Cahyana saat ditemui di Medan belum lama ini.

Diutarakan dia, setelah tahap 1 selesai lalu berlanjut ke tahap 2 untuk pembangunan kawasan industri yang bekerja sama dengan Inalum membuat anak perusahaan.

Total luas kawasan industri nantinya sekira 3.000 hektare, yang ditargetkan mulai beroperasi pada tahun 2021 dengan perkiraan investasi sekitar Rp30 triliun.

“Belum langsung menjadi hub internasional, artinya bertahap. Sebelumnya, sudah ada kawasan industri di sana, jadi saya yakin bila pelabuhan multiguna ini beroperasi maka industri-industri yang selama ini menjual barangnya dalam bentuk bahan mentah nantinya bisa setengah jadi atau barang jadi,” ujarnya.

Sebagai contoh, seperti Inalum yang memproduksi alumunium ingot (batangan) 240 ton dan dikirim ke Surabaya. Kemudian, di Surabaya dicairkan lagi. Setelah dicairkan, dibuat barang jadi seperti velg, panci dan lain sebagainya. Nah, setelah itu barulah diekspor.

Oleh sebab itu, Inalum dan Maspion akan membangun hilirisasi produk di sana karena dengan begitu lebih efisien. Artinya, biaya produksi dan transportasinya lebih hemat atau murah lantaran tak perlu memindahkan bahan bakunya lagi. Malahan, dari Inalum ke pabrik barang jadinya tidak perlu membekukan lagi. Artinya, memungkikan bisa memindahkannya dalam bentuk cair.

“Katakanlah dalam 1 kontainer berisi 240 ton bisa diolah barang jadi sekitar 400 ribu ton. Kalau 400 ribu ton diangkut dalam 1 kontainer mencapai 10 ton, maka sudah 40 ribu peti kemas. Belum lagi karet yang ada di sana dan lainnya,” terang Bambang Eka.

Oleh karenanya, dia meyakini apabila ada peti kemas di Kuala Tanjung pada tahun pertama operasional, kemungkinan bisa meraup 100.000 teus. Dengan begitu, artinya sudah melangkah dari 0 menjadi 20 persen dan ini sudah bagus.

“Lain lagi dengan CPO yang ada di situ, kemungkinan secara total kita bisa dapat 2 juta ton. Dari jumlah ini jika diolah menjadi produk, bisa dihitung berapa jumlahnya kemungkinan sekitar 3 juta ton barang jadi. Sehingga, kalau ditotal 10 ton diangkut pakai kontainer maka sudah 300.000 teus peti kemas,” beber dia.

Menurutnya, dalam mewujudkan semua perubahan ini bagaimana mendorong terjadinya hilirisasi produk. Oleh karena itu, strategi di dalam mengembangkan Kuala Tanjung maka tahap 2 dikembangkan kawasan industrinya yang memiliki potensi sangat besar.

Sebab, tanpa ada kawasan industri kemungkinan tidak bisa meng-generate kargo. Makanya, tahap awal ini dibuat gateway dulu, sehingga nantinya bisa menjadi pelabuhan yang menggeneral kargo.

“Kami yakin kargo itu bisa kita bangun dalam 5 tahun. Nah, 5 tahun kemudian sudah pasti jadi hub internasional. Kalau di Kuala Tanjung itu ada saja 1 juta teus peti kemas yang asalnya dari sana, tentu akan menarik kapal-kapal besar untuk masuk. Apalagi, pemerintah saat ini lagi gencar membangun infrastruktur di Pulau Sumatera mulai dari power plan (jalan tol & jalur kereta api),” jelasnya.

Ia melanjutkan, apabila infrastruktur pendukung telah jadi maka konektivitas antara wilayah satu dengan lainnya sangat mudah. Misalnya, dari Padang mau ekspor ke Singapura, tidak perlu lagi ke Jakarta. Sebab, tinggal lewat tol saja menuju Kuala Tanjung lebih dekat.

Belum lagi dari lainnya, yang ditargetkan dari Lampung hingga Aceh bisa diarahkan ke Kuala Tanjung. Aksesnya terhubung dari jalan tol Trans Sumatera.

“Konsep Kuala Tanjung sama seperti pelabuhan Eropa dalam yakni Rotterdam, yang menjadi hub untuk negara-negara lain dalam mengekspor hasil alam mereka masing-masing,” cetusnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds