Awal Tahun, Inflasi Sumut Terkendali

ilutrasi
pixabay

ilutrasi pixabay

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Mengawali tahun 2018 inflasi Sumatera Utara relatif terkendali. Hal ini seiring dengan harga pangan yang terjaga.

“Inflasi Sumut pada Januari 2018 tercatat 0,69% (mtm),” kata Kepala Kantor Perwakilan Wilayah Bank Indonesia Sumut, Arief Budi Santoso dalam keterangan tertulisnya via email, Senin (5/2/2018).

Dikatakan dia, capaian inflasi bulanan pada awal tahun ini lebih rendah dibandingkan rata-rata historis dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (0,95%, mtm). Namun, capaian tersebut berada sedikit di atas inflasi nasional yang mencapai 0,62% (mtm).

“Secara spasial, disparitas inflasi terlihat di 4 kota Sumut. Inflasi Kota Sibolga dan Medan berada di atas nasional masing-masing sebesar 1,28% dan 0,71%, (mtm). Sementara inflasi di Kota Pematangsiantar (0,54%, mtm) dan Padangsidimpuan (0,28%, mtm), relatif rendah dan berada di bawah inflasi nasional,” ujarnya.

Dijelaskannya, sumber inflasi bulan ini terutama berasal dari kelompok volatile food yang tercatat mengalami 1,80% (mtm).

Namun realisasi tersebut lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,55% (mtm), dan rata-rata historisnya selama 5 tahun terakhir sebesar 3,45% (mtm).

Menurut dia, inflasi kelompok volatile food tersebut terutama didorong oleh inflasi komoditas utama seperti beras (3,44%, mtm), cabai merah (2,48%, mtm), daging ayam (5,94%, mtm) dan cabai rawit (12,98%, mtm).

Hal ini seiring dengan belum optimalnya pasokan di beberapa sentra produksi, akibat intensitas hujan yang cukup tinggi dan penyesuaian pola produksi bahan pangan, khususnya beras.

“Secara tahunan inflasi volatile food masih relatif rendah sebesar 4,78%, di bawah rata-rata Januari selama 5 tahun terakhir sebesar 5,68%,” ucapnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, tertahannya tekanan inflasi volatile food juga didukung oleh harga beras yang mulai menurun di akhir bulan. Hal itu setelah intensifnya operasi pasar yang dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sumut dalam menjaga pasokan.

“Ke depan, tekanan inflasi pada tahun 2018 diperkirakan tetap terjangkar pada sasarannya yaitu 3,5±1 persen. Namun, kenaikan harga pada kelompok volatile food dan administered price menjadi faktor risiko yang perlu mendapat perhatian,” tandasnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds