Awas! Seminggu, Tujuh Anak Gadis Sempat Hilang di Daerah Ini

Ilustrasi
Pixabay

Ilustrasi Pixabay

POJOKSUMUT.com, KASUS hilangnya siswi SMA Negeri 4 Bengkulu, Auzia Umi Detra (17) selama seminggu dan akhirnya ditemukan tewas usai dibunuh teman cowoknya menguak fakta baru.

Ternyata, dalam seminggu terakhir, sudah tujuh orang dinyatakan menghilang dan empat diantaranya telah ditemukan, satu dalam kondisi meninggal dunia, satu dalam kondisi trauma psikis, serta dua orang lagi dalam kondisi sehat.

Untuk itu, masyarakat Bengkulu, terutama orang tua diminta lebih waspada.

Pada Rabu (7/2/2018) siang, siswi SMA Negeri 4 Kota Bengkulu yang beralamat di Jalan Timur Indah Ujung ditemukan tewas mengenaskan di Kawasan Lentera Merah Pulau Baai Bengkulu. Selanjutnya, pagi (8/2/2018), Hasyuni (26) warga Jalan Timur Indah 5 Rt 32 Rw 02 No 12 Kota Bengkulu yang sebelumnya dikabarkan menghilang sejak Selasa (6/2/2018) telah kembali pulang.

Ibu Hasyuni, Nurlina Simbolon mengaku bersyukur anaknya bisa pulang dengan keadaan sehat walaupun sedikit trauma. Ia tidak bisa berkomentar banyak tentang anaknya yang telah ditemukan karena kondisi anaknya sedang kelelahan.

“Saya bersyukur anak saya kembali dengan selamat dan sekarang masih trauma dan belum bisa banyak bercerita,” ujar Nurlina kepada Bengkulu Ekspress/BE (Grup Pojoksumut), kemarin (8/2/2018).

Nurlina menjelaskan, anaknya saat ditemukan dalam kadaan kelelahan dan mengalami trauma psikis. Pihak keluarga juga belum mengetahui secara pasti hal apa yang terjadi karena konsisi Hasyuni masih belum stabil.

Sementara itu, Ketua RT 32 Timur Indah 5, Sugian mengatakan, kejadian hilangnya Hasyuni berawal pada hari Selasa (6/2/2018) sekira pukul 17.00 WIB berpamitan kepada orang tuanya untuk pergi mengajar les private. Tetapi hingga pukul 20.30 WIB Hasyuni belum juga pulang sehingga pihak keluarga menghubunginya dan diketahui masih dalam perjalanan pulang. Tetapi tepat pukul 21.00 WIB Hasyuni belum juga pulang dan pihak keluarga mencoba menghubungi kembali dan ternyata nomor handphonenya sudah tidak aktif.

“Hasyuni terakhir pamit mengajar les private Selasa malam, namun ditunggu-tunggu tidak kunjung pulang padahal sebelumnya dia bilang sudah mau pulang,” ujar Sugian.

Akibat tidak pulang-pulang, pihak keluarga Hasyuni akhirnya meminta bantuan kebeberapa orang pintar. Beberapa informasi yang diberikan orang pintar kepada pihak keluarga Hasyuni mengatakan kalau anaknya ada di Bengkulu Utara, bahkan sebagian orang pintar ada yang mengatakan Hasyuni ada di Seluma dan dalam keadaan sehat.

“Namun semua itu belum juga berhasil dan pihak keluarga memutuskan untuk menggelar yasinan di rumah,” lanjut Sugian.

Setelah menunggu beberapa hari, tepat pada Kamis (8/2/2018) sekira pukul 04.00 WIB Hasyuni dikabarkan telah ditemukan warga di Masjid Jamik Kota Bengkulu dengan menggedor-gedor pintu masjid dan berusaha meminta tolong.

“Pihak masjid akhirnya menolong Hasyuni dengan kondisi saat itu tidak lagi mengenakan jilbab serta sendal,” imbuh Sugian.

Saat diamankan oleh pihak masjid, Hasyuni terlihat ketakutan karena merasa ada dua orang yang hendak mengejar dirinya ke Masjid Jamik. Kemudian pihak masjid mencoba menenangkan Hasyuni, tetapi Hasyuni tetap tidak tenang dan selalu merasa gelisah. Hingga akhirnya Rektor Unihaz Yulperius pada saat yang bersamaan hendak salat subuh di Masjid Jamik melihat kejadian tersebut dan membawa Hasyuni pulang ke rumah.

“Ditemukannya tadi pagi (kemarin,red) saat menggedor-gedor pintu masjid dan langsung menghubungi pihak keluarga serta diantarkan pulang oleh Rektor Unihaz Bengkulu,” tukas Sugian.

Rektor Universitas Prof Dr Hazairin SH (Unihaz), Dr Ir Yulfiperius MSi mengatakan, dirinya saat hendak salat subuh ke Masjid Jamik bertemu dengan warga dan Hasyuni yang kala itu merasa ketakutan karena trauma. Kemudian dirinya meminta pihak masjid untuk menghubungi keluarganya yang kebetulan telah tersebar baik di WhatsApp, Facebook serta media lainnya.

“Setelah pihak keluarga datang Hasyuni tetap trauma ketakutan karena merasa dikejar orang, kemudian saya ikut mengantarkan pulang Hasyuni ke rumahnya,” singkat Yulfiperius.

Selain kasus Hasyuni, siswi SMP yang beralamat di Jalan Griya Kecamatan Siring Agung Lubuk Linggau, DNA (15) juga dinyatakan menghilang sejak hari Minggu (4/2) lalu. Tetapi saat ini DA telah kembali pulang dan ditemukan menginap di rumah saudara perempuannya di Jalan Muhajirin Kota Bengkulu.

“Alasan menghilang gadis ini adalah takut dimarahi keluarga setelah menginap di rumah temannya dan terpaksa harus naik travel pergi ke Bengkulu,” singkat sepupunya, Andrian Malata.

Sementara itu, Mahasiswi Universitas Gunadarma Jakarta, Tessy Zaleha Putri (20) juga dikabarkan telah kembali pulang ke rumah setelah beberapa hari yang lalu dikabarkan sempat menghilang sejak Kamis (1/2) lalu karena mobil travel yang ditumpanginya tidak kunjung sampai ke Kota Bengkulu. Tetapi hingga kini pihak keluarga belum bisa memberikan informasi karena Tessy hingga sekarang belum bisa memberikan keterangan sedikitpun tentang keterlambatan dirinya sampai di Bengkulu.

“Baru sampai pagi tadi (kemarin, red) cuma Tessy belum mau cerita kalau seminggu ini sudah pergi ke mana,” singkat kakaknya, Anto.

Meski Hasyuni, Dinda Novi Aristi, dan Tessy Zaleha Putri telah pulang dengan selamat, tidak berarti kasus hilangnya sejumlah orang di Bengkulu berakhir. Seperti diketahui, saat ini ada sekitar tiga orang lagi yang dikabarkan belum ditemukan, yakni Warda (24) yang beralamat di Talang Benih Ujung Curup Kabupaten Rejang Lebong, pelajar SMP 25 Kota Bengkulu, Lorita Nur Adiza (14) dan pelajar SMUN 7 Bengkulu Selatan, Mentari Nurhidaya (16) yang juga menghilang sejak Rabu (7/2) lalu.
Maraknya kejadian orang hilang di Bengkulu dalam sepekan ini membuat para orang tua harus lebih waspada terhadap lingkungan sekitar dan lingkungan anak beraktivitas.
Sementara itu, untuk mengetahui kejadian yang menimpa Sri Wardani, BE menyambangi rumah orang tua Warda yang ada di tengah persawahan yang ada di Kelurahan Talang Benih pada Kamis (8/2).

Namun niat baik BE bersama sejumlah media lainnya ditanggapi berbeda oleh keluarga Warda. Dimana keluarga Warda menolak kasus hilangnya anak mereka dipublikasikan di media massa. Bahkan pihak keluarga langsung menutup pintu rumah mereka saat awak media berada di teras rumahnya, namun didalam terlihat sejumlah petugas kepolisian dari Polres Rejang Lebong.



loading...

Feeds