Soal Toge, Kalapas Tanjunggusta Akui Merasa Kecolongan

Toge alias Toni, terlihat santai saat petugas merazia Lapas Lubukpakam beberapa waktu lalu. Kini, dia juga tersangdung kasus yang sama.
foto : dok/sumutpos/JPG

Toge alias Toni, terlihat santai saat petugas merazia Lapas Lubukpakam beberapa waktu lalu. Kini, dia juga tersangdung kasus yang sama. foto : dok/sumutpos/JPG

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kepala Divisi Pemasyarakatan Kanwil Kemenkumham Sumut, Hermawan Yunianto tak akan menghalangi jika Badan Narkotika Nasional (BNN) ingin memeriksa setiap petus Lapas Klas I A Tanjunggusta Medan.

Ini terkait penemuan lagi-lagi peredaran narkoba yang dikendalikan terpidana mati dua kali Togiman alias Toge kembali dalam dari Lapas seberat 87,7 kilogram di Medan dan Aceh, Rabu (7/2/2018).

“Jika memang ada oknum petugas yang terlibat, silahkan mereka yang memeriksa. Jika benar ada, kami tidak akan menghalangi silahkan periksa,” ujarnya.

Hermawan menjelaskan petugas lapas telah berusaha mengawasi seluruh ribuan tahanan yang ada termasuk Toge. Namun, menurutnya para narapidana tersebut pandai membaca pergerakan petugas yang mengawasi ketika akan dilakukan razia di setiap blok tahanan.

“Petugas kita terus melakukan pengawasan. Tetap ada penggeledahan, laporan tetap jalan setiap minggu. Tetapi pergerakkan petugas kita dibaca mereka. Tapi petugas kita tak akan pernah mampu membaca pergerakkan para narapidana. Jadi ketika dilakukan razia, termasuk, handphone yang dimiliki narapidana bisa beralih kepada yang lain,” bebernya.

Disebutkannya, sebelum kasus ini dipaparkan, Toge telah dibawa petugas BNN untuk menjalani pengembangan. “Seminggu lalu, petugas BNN telah mengebon (pinjam) Toge, dibawa ke Jakarta untuk pengembangan. Yang tahu kasusnya itu penyidik mereka,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Tanjunggusta Medan, Asep Syarifuddin tak membantah jika pihaknya disebut kembali kecolongan atas tindakan Toge. Pihaknya sudah razia rutin juga kerap dilakukan petugas untuk memeriksa setiap sel di blok tahanan, termasuk kepemilikan handphone.

“Jadi semua itu sudah diperhitungkan. Razia rutin kita lakukan dua kali seminggu, razia insiden tidak tentu kadang empat atau lima kali seminggu. Kalau masih juga ada warga binaan seperti Toge yang kendalikan narkoba kami merasa kecolongan,” akunya.

Seperti diberitakan sebelumnya, BNN dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengungkap penyelundupan 87,7 kg sabu dan 18 ribu pil ekstasi yang dilakukan Toge, Rabu (7/2/2018).

Kepala BNN Komjen Budi Waseso menjelaskan, ada sembilan orang kaki tangan Toge yang ditangkap karena menyelundupkan narkotika di Sumatera Utara (Sumut). Mereka menjalankan bisnis sesuai dengan perintah Toge yang meringkuk di Lapas Tanjung Gusta. ”Toge ini sudah dua kali divonis mati,” terangnya.

Bahkan, Toge ini juga pernah dijerat dengan tindak pidana pencucian uang (TPPU). Hasilnya, ada uang lebih dari Rp10 miliar yang merupakan hasil penjualan narkotika. ”Tapi, sekarang dia kembali menjalankan bisnisnya,” tuturnya.

Buwas-panggilan akrab Budi Waseso- mengatakan, dalam lapas Toge ini bahkan memiliki peralatan anti sadap. Sekaligus, ada fasilitas untuk bisa berganti-ganti nomor handphone. ”Kalau tidak ada oknum yang bantu, gak mungkin,” papar jenderal berbintang tiga tersebut.

Menurutnya, sebenarnya kondisi ini pernah terjadi pada Freddy Budiman. Dengan begitu dapat diketahui bahwa ada masalah dengan undang-undang narkotika saat ini. ”Apa yang kami kerjakan ini semua nantikan akan menjadi masukan untuk perubahan regulasi,” paparnya.

Khususnya terkait mekanisme banding, kasasi, peninjauan kembali dan grasi bagi bandar narkotika. Seharusnya narkotika yang merupakan kejahatan luar biasanya bisa diterapkan tanpa mekanisme tersebut. ”Mereka manusia yang mentalnya seperti binatang. Hanya berpikir keuntungan kendati banyak korban menderita,” jelasnya.

Terpidana mati yang berulang kali mengulangi perbuatannya mampu untuk menahan eksekusi mati dikarenakan proses yang berbelit-belit. Misalnya, saat mengajukan PK ini terpidana mati menunggu detik-detik akhir. ”Ya, biar bisa lama dan selamat dari eksekusi,” terangnya.

Perlu diketahui, BNN juga mengungkap dua kasus lain dengan barang bukti mencapai 22 kg di Aceh. Ada empat tersangka yang ditangkap dalam dua kasus tersebut. (idr/air/JPG/fir/pojoksumut)



loading...

Feeds