HEBOH! Kisah Susi Simanjuntak Beberkan Suami Menikahi Adik Kandungnya, Direstui Sang Mertua

Susi Juliana Simanjuntak dan suaminya, Lucen Aritonang saat pernikahan.
Foto : Facebook

Susi Juliana Simanjuntak dan suaminya, Lucen Aritonang saat pernikahan. Foto : Facebook

POJOKSUMUT.com, MEDIA sosial dikagetkan dengan kisah pernikahan sedarah yang sangat memalukan dan melanggar norma agama dan adat istidat. Mirisnya ini, datang dari suku Batak yang dikenal sangat menjujung tinggi adat.

Kisah ini dari dari Susi Juliana Simanjuntak dengan akun Dek Yuli S yang membagikan bagaimana pedihnya pernikahannya yang harus hancur dalam hitungan bulan, begitu mengetahui fakta bahwa suaminya, Luncen Ricardo Aritonang dan adik iparnya, Erlinda Aritonang menjalin kasih dan memiliki anak, bahkan sebelum dirinya menikah dengan sang suami.

Perjalanan hidup Susi makin tak karuan, begitu dia mengadu ke mertuanya, ternyata sang mertua malah memberikan restu anak laki-laki dan anak perempuannya menikah alias berhubungan layaknya suami istri, padahal satu darah.

Postingan ini Susi in sejatinya dibebernya ke publik via Facebook, Selasa (13/2/2018). Saat ini, unggahan tersebut sudah dihapus. Susi menyebutkan, kalau ada seseorang yang mereport postingan tersebut.

Akun fb saya yg sebelumnya disuspen, ada yg melaporkan postingan saya ke pihak fb, maka postingan saya pun dihapus oleh pihak fb. sangat disayangkan sekali andai saja pihak fb melihat sendiri apa yg saya alami dlm rmhtangga saya. Mungkin dia ikut menangis bersama saya. Tp begitupun saya ucapkan terima kasih kepada Facebook,” tulis, Kamis (15/2/2018) siang.

Namun, kisahnya tersebut sudah tersebar dan sempat discreeshoot oleh netizen.

Simak postingan Susi selengkapnya, pada postingan awalnya yang sudah tersebar seperti di bawah ini;
Saya baru menikah 7 bulan yg lalu di Medan dengan seorang pria bernama LUCEN RICARDO ARITONANG asal Sitompul-Tarutung. Anak dari mertua saya L.br.sitompul (mertua laki2 saya sudah meninggal) Suami saya ini dibesarkan oleh adik perempuan mertua saya (tante suami saya) yg menikah dgn seorang pendeta yaitu Pdt. E. Mungkur, S.Th sejak usia 2thn yg dipanggil oleh suami saya dgn sebutan papi dan mami. juga memberkati pernikahan kami. Sebelumnya kami menjalani hubungan pacaran 2 thn dan long distance. Suami saya bekerja disebuah perusahaan swasta di kecamatan Duri Mandau-Riau.

Dia tinggal disana dengan seorang adik perempuannya kandung yg bernama ERLINDA ARITONANG. Adik perempuannya ini mempunyai seorang anak laki2 yg kondisi mentalnya (maaf) kurang normal. Tidak ada kejanggalan yg saya rasakan hingga hari pernikahan kami. Ketika hari pernikahan kami tiba ada sedikit kejanggalan yg saya perhatikan, dimana selama prosesi pernikahan berlangsung sejak pagi hingga malam (pulang kerumah mertua dari gedung) tidak sekalipun adik perempuannya itu (Linda) menyalam saya. Dan ketika giliran sesi foto keluarga mereka di gereja adk perempuannya itu menghantarkan anaknya kepada suami saya.
Kemudian setelah selesai acara selama 2 malam kami menginap dihotel krn rumah mertua penuh. Setiap pagi selama 2 hari berturut2 adik ipar saya itu selalu menelepon suami saya dan memintanya utk segera pulang dgn berbagai alasan yg dibuat2 namun saya berhasil menggagalkannya. Dan di hari 3 kami berumah tangga kami menginap di rumah mertua (orgtua angkat suami saya yg juga tante kandungnya).

Namun keganjalan itu muncul lagi.. ketika kami masuk ke dalam kamar (di lt.2 rumah) , tdk lama anak dari adik ipar saya itu menangis di depan kamar kami. Dan suami saya membuka pintu kamar dan membawa anak itu masuk ke kamar kami. Saya mulai heran kenapa anak itu bisa ada di dpn kamar kami (krn biasanya anak itu tdk pernah dibiarkan naik sendiri ke lt. 2 rumah) saya kemudian turun utk melihat keadaan di bawah dan saya melihat mamanya (adik ipar saya/Linda) sedang asik main2 hp.

Setelah saya naik kembali ke kamar dan memberitahu suami saya, ternyata suami saya marah dan menyalahkan saya dan tdk lama kemudian adk ipar saya meng BBM suami saya utk mebuat susu anaknya dan mengganti baju anaknya dan suami saya melakukan perintahnya. Terjadi pertangkaran antara saya n suami wkt itu namun akhirnya saya mengalah. Banyak kejanggalan lagi hingga akhirnya kami tinggal di Duri-Riau. Setiap waktu luang suami saya selalu dihabiskan di rumah adk kandungnya Erlinda, sedangkan saya di rumah sendirian.

Erlinda yang diduga adik kandung sang suami atau adik ipar Susi.

Suami saya juga tdk jujur terhadap penghasilannya tiap bulan. Dia tetap membiayai penuh adik perempuannya dan anaknya yg berusia 5thn yg bersekolah di sekolah swasta khusus anak berkebutuhan khusus. Sementara kami blm punya apa2 di rumah dan uang saya terima bahkan tdk cukup utk makan kami sehari2.

Namun yang itu harus saya pergunakan utk semua kebutuhan kami termasuk membayar kontrak rumah. Akhirnya 3 minggu di Duri saya memutuskan utk pulang krn suami saya tdk mau jujur. Saya permisi pulang dgn niat supaya kita bisa introspeksi diri masing2.



loading...

Feeds