Pendidikan Karakter Tak Bisa Berjalan Sendiri, Harus Dibarengi Ini…

Ilustrasi sekolah

Ilustrasi sekolah



POJOKSUMUT.com, MEDAN-Sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar materi-materi dari buku pelajaran. Namun, harus lebih dari itu diharapkan menjadi pusat pengembangan karakter calon-calon penerus bangsa.

“Dinas Pendidikan Kota Medan beberapa waktu lalu telah mengumpulkan para kepala SMP Negeri untuk membahas penguatan pendidikan karakter terhadap peserta didik. Dalam pertemuan itu, ditugaskan menyusun suatu standar pembelajaran pendidikan karakter yang diterapkan di sekolah. Namun, harus dibarengi juga dengan gerakan literasi dan berwawasan lingkungan,” ungkap Kepala SMPN 6 Medan, Ariffuddin belum lama ini.

Menurut dia, pendidikan karakter yang dibarengi dengan literasi dan berwawasan lingkungan harus dilaksanakan secara terstruktur, sistematis dan masif.

Artinya, tidak secara sendiri-sendiri atau parsial tetapi harus bersamaan termasuknya juga di sekolah dasar.

“Tak hanya itu saja, seluruh pihak terkait dengan pendidikan harus terlibat di dalamnya, termasuk orang tua. Dengan begitu, barulah hasilnya akan kelihatan,” terangnya.

Disebutkan Ariffuddin, program pendidikan karakter yang diterapkan di sekolahnya sudah dijalankan sejak dirinya memegang amanah sebagai kepala sekolah pada tahun 2012 yang dimulai dari pendidikan agama.

“Di sekolah kita ada tiga agama besar yang dianut siswa-siswi, yaitu Islam, Kristen Katolik dan Kristen Protestan. Jadi pembelajaran budi pekerti dalam agama itu merupakan suatu hal yang prioritas. Artinya, tidak hanya kegiatan dalam pembelajaran di kelas saja pendidikan karakter diberikan. Namun, bagaimana perilaku keagamaan anak-anak terus dipantau oleh para guru,” sebut dia.

Misalnya, lanjut Ariffuddin, dalam agama Islam, guru-guru harus mengajak muridnya beribadah ketika masuk waktu salat. Begitu juga dengan murid beragama Kristen Katolik dan Kristen Protestan mengajak beribadah.

“Pendidikan karakter dalam pelajaran agama yang diterapkan di SMPN 6 Medan dibarengi juga dengan gerakan literasi sekolah. Jadi, siswa tidak hanya sekadar membaca buku pelajaran atau pengetahuan umum yang lain, tetapi kitab suci agama yang dianut siswa juga harus mereka baca. Makanya, kita membuat program untuk anak-anak yang beragama Islam ‘Satu Hari Satu Ayat’. Artinya, setiap harinya mereka harus membaca dan menghafal ayat alquran minimal satu ayat. Program tersebut berjalan secara kontinu khususnya surat-surat pendek agar mereka hafal,” paparnya.

Selain itu juga, akan digalakkan salat dhuha dan salat subuh berjamaah. Khusus salat subuh berjamaah, anak-anak melaksanakan di masjid terdekat di rumah. Untuk itu, dibuatkan buku penghubung atau catatan yang nantinya ditandatangani oleh imam di masjid tempat tinggal siswa.

“Guru-guru yang beragama Islam harus memberi dukungan bahwasanya salat subuh itu sebaiknya tidak di rumah melainkan di masjid atau mushalla secara berjamaah,” ujarnya.

Sedangkan bagi murid yang beragama Kristen baik Katolik maupun Protestan, sambung Ariffuddin, melaksanakan kebaktian bersama di hari Jumat. Pelaksanaannya, ketika murid beragama Islam melaksanakan salat Jumat. “Kita hadirkan secara rutin pendeta dari luar sekolah yang sudah dibangun kerja samanya oleh guru agama,” ucapnya.

Ia menambahkan, program pendidikan karakter yang berwawasan lingkungan juga diterapkan kepada siswa-siswi. Terbukti, SMPN 6 Medan mendapat penghargaan Sekolah Adiwiyata Nasional Tahun 2014.

“Kepedulian anak-anak terhadap lingkungan hingga alam harus dijaga terus. Di sekolah kita ada ekstrakulikuler yang berkaitan dengan lingkungan, yaitu Gerakan Anak Muda Pecinta Alam (Gampa). Salah satu kegiatannya, menjaga, merawat dan melestarikan lingkungan serta alam terutama tanaman hias dan pelindung di sekolah. Lebih dari itu, tanaman tersebut dijadikan objek sumber belajar mereka khususnya mata pelajaran biologi,” imbuhnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds