Sebelum Tewas, Pengunjung Karaoke D-Zone Diduga Bersama Oknum Polisi

ilustrasi
Pixabay

ilustrasi Pixabay

POJOKSUMUT.com, PADANGSIDIMPUAN-Tewasnya seorang pengunjung dari ruangan Karaoke Family D-Zone, Kota Padangsidimpuan, Rabu (28/2/2018) dini hari terus diselidiki.

IL (52) warga Desa Huraba, Kecamatan Batang Angkola, Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) diketahui tewas dengan tubuh membiru. Saat kejadian, dia dilarikan teman-temannya dari ruang karaoke di Jalan SM Raja, Kota Padangsidimpuan, ke RS Inanta yang berjarak sekira 300 meter dari lokasi hiburan malam itu.

Saat dibawa ke rumah sakit, tubuh pria yang berusia kepala lima itu sudah membiru dan lemas. Namun, akhirnya meregang nyawa dalam perjalanan.

Pemilik Karaoke Family D-Zone, Dody Surya, Kamis (1/3/2018), menyebut, pria yang meninggal itu bukan karena over dosis seperti informasi yang berkembang. Namun, (kemugkinan besar) serangan jantung sebagaimana kondisi tubuhnya yang membiru sebelum meninggal dunia.

“Bukan di sini meninggalnya, di Rumah Sakit itu,” katanya.

Namun, ia kemudian meluruskan, pengakuan seorang petugas Unit Gawat Darurat RS Inanta menyebutkan, korban tiba di rumah sakit dalam keadaan mayat.

“Saat di sini masih ada nafasnya, ya bisa jadi di dalam perjalanan,” timpalnya.

Jika overdosis maupun serangan jantung yang disebabkan obat-obatan atau obat terlarang, menurutnya, dalam hal ini pihak D-Zone hanya melakukan pengawasan bagi pengunjung dalam lingkup bangunan D-Zone.

“Anggota saja kalau ada yang terlibat narkoba, saya pecat itu. Kalau misalnya pengunjung makai narkoba di luar, itu kita tidak bisa memantaunya sejauh itu. Karena kita juga menjaga hak privasi pengunjung,” sebut Dody.

Dody menegaskan, dalam hal narkoba dan minuman keras, D-Zone tidak menyediakan atau mengedarkannya.

Sementara itu, salah seorang tenaga medis di UGD RS Inanta menuturkan, pada malam itu, korban dibawa rekan-rekannya menggunakan mobil pribadi. Namun, sudah dalam kondsi meninggal dunia. Tak lama setelah mengantarkan jasad itu, seluruh rekan korban menghilang dan membiarkannya di UGD RS Inanta.

“Kalau bau alkohol tidak ada, cuma wajahnya membiru memang. Kita tidak melakukan visum. Teman-temannya setelah antar ke sini langsung pergi,” ungkap laki-laki, yang juga turut mengantarkan jenazah korban dengan ambulans ke Rumah Duka di Pintu Padang, Batang Angkola.

Pagi hari sekira pukul 08.00 WIB, kedua orangtua korban dan seorang putrinya, menanggungjawabi proses administrasi yang berlaku di rumah sakit swasta itu.

“Mereka memang meminta supaya divisum. Kalau visum kan harus ke rumah sakit umum (RSUD Kota Padangsidimpuan). Tapi terakhir mereka meminta pulang saja,” tuntasnya.

Namun, belakangan ada keterangan saksi yang lumayan bisa menguak kejadian ini. Dalam ruangan itu saat kejadian, korban diketahui bukan sendirian. Namun, ada teman-temannya yang lain yang kabarnya diduga tidak jauh mengarah kepada oknum aparat keamanan.

MS Lubis, seorang warga yang berdekatan dengan gedung karaoke di Lingkungan VII, Kelurahan Wek V, Kecamatan Padangsidimpuan Selatan itu. Kepada Metro Tabagsel (grup Pojoksumut), Jumat (2/3/2018) memastikan, bahwa teman-teman korban diduga merupakan oknum petinggi di Polres Kota Padangsidimpuan.

Saat kematian korban, dengan sigap rekan korban yang lainnya membersihkan jejak digital dengan mengambil handphone dan dompet.

“Saya tidak tahu betul handphonenya. Orangnya saya tahu,” ungkapnya menyebut inisial SB berusia 30-an Tahun.



loading...

Feeds