Main di Eropa, Beginilah Sederhananya Rumah dan Orangtua Egy Maulana di Medan

Orang Tua Egy dan Abangnya saat ditemui di warung sekaligus rumah di Jalan Asam Kumbang, Senin (12/3/2018).
Foto : nin/pojoksumut

Orang Tua Egy dan Abangnya saat ditemui di warung sekaligus rumah di Jalan Asam Kumbang, Senin (12/3/2018). Foto : nin/pojoksumut

Tahun 2005, menjadi awal kisah Egy bermula. “Saya bawa Egy ke PS Tasbih melihat dulu, tujuannya saya agar dia seperti abangnya. Bakatnya luar biasa, sudah terlihat dari saat di Asam Kumbang,” ungkapnya.

Putranya yang lahir 7 Juli 2000 itu kata Syariffuddin bahkan harus mengorbankan sekolahnya. Egy yang sejak SD di sekitar Asam Kumbang dikenal sebagai pintar yang masuk ranking tiga sejatinya gampang masuk SMP negeri. Namun, Syariffuddin menjelaskan Egy akhirnya masuk ke sekolah tak favorit di SMP Pemraujan, Sunggal, Deliserdang. “Pertimbangan saya, kalau dimasukkan ke sekolah negeri akan sulit untuk ikut turnamen. Saat itu terserah ada yang bilang orang tua bodoh. Banyak yang bilang, kok di sekolahkan di sekolah itu,” ungkapnya.

Egy hanya bertahan selama satu tahun di SMP tersebut, kelas 2 SMP, Egy mulai dibawa ke Ragunan oleh bapak angkat Egy, Subagja Suihan.

“Subagja banyak sekali jasanya. Dia suka mencari pemain berbakat. Dia melihat Egy saat di SSB Tasbih, dia datang melihat Egy. Kemudian Indra Sjafri datang ke PPLP Sunggal, saat itu dia tanya Egy itu siapa, kualitasnya bagus, dan bilang agar anak ini (Egy) tolong dijaga,” bebernya.

Namun, Egy yang saat itu lolos seleksi PPLP untuk ke suatu event gagal berangkat karena tidak punya biaya. “Tahun 2013, Egy enggak jadi berangkat karena saat itu biaya pribadi berangkatnya, sekitar Rp6-7 juta. Saya bilang sama Egy, kami orangtuanya enggak sanggup,” tuturnya.

Selepas itu, Egy dibawa bapak angkatnya ke Ragunan dan sejak kelas II SMP dia disana dan terus berkembang hingga masuk Timnas dan jadi pemain di klub Eropa. (nin/pojoksumut/*/bersambung)



loading...

Feeds