Memprihatinkan, Proyek Sudah Selesai, Puluhan Pekerja Jembatan Ini Belum Digaji

Para pekerja yang sedang menanti gaji terakhir yang sejak akhir tahun 2017 tidak jelas juntrungannya.
Foto : ist

Para pekerja yang sedang menanti gaji terakhir yang sejak akhir tahun 2017 tidak jelas juntrungannya. Foto : ist

 

POJOKSUMUT.com, TANJUNGBALAI-Sebanyak 35 orang pekerja pembangunan jembatan di Jalan Hajjah Sopiah, Kelurahan Beting Kuala Kapias, Kecamatan Teluk Nibung Kota Tanjungbalai, mengalami nasib miris.

Pasalnya, mereka tidak menerima gaji yang menjadi haknya oleh Perusahaan Kontraktor yaitu PT Sekawan Bersama Jaya, Pelaksana pada proyek NUSSP Tahun anggaran 2017. Sumber Dana APBN murni sebesar Rp3,3 miliar.

“Gaji yang seharusnya diterima pada tanggal 27 Desember 2017 lalu, nyatanya sampai saat ini belum diterima tanpa alasan yang jelas,” ungkapnya.

Para pekerja ini sejatinya digaji dua minggu sekali, namun gaji terakhir belum diterima hingga akhirnya pekerjaan selesai.

Hal ini dikatakan Tengku Ahmad (50) warga Jalan Jendral Sudirman Km 5, Kelurahan Sijambi, Kecamatan Datuk Bandar Kota Tanjungbalai, Seorang Kepala kerja sekaligus pemasuk bahan (Suplayear) pada proyek NUSSP tersebut.

“Sudah pernah saya hubungi handphone pemimpin perusahaan tersebut tetapi tidak mau diangkat, bahkan melaporkannya kepada Dinas Perumahan dan Permukiman Kota Tanjungbalai, tetapi hasilnya nihil dan sampai saat ini juga belum ada hasil,” ujarnya, Senin (12/3/2018).

Ahmad juga membeberkan kepada awak media bahwa pada pekerjaan proyek NUSSP tersebut banyak yang tidak sesuai dengan RAB. Dari mulai pondasi yaitu kayu cerocok, takaran adukan semen, ketebalan coran, dan jumlah banyak mobil molen.

Selain pekerjaan tersebut belum dilakukan pengecatan, juga pada jembatan tersebut sudah banyak yang pada retak-retak, bahkan proyek tersebut belum serah terima karena pihak Dinas Perkim Kota Tanjungbalai tidak puas dengan hasil kerja perusahaan tersebut.

“Bukan hanya itu, ada yang lebih parahnya. Sewaktu dalam pelaksnaan pekerjaan, ada papan yang kurang lalu dipinjam dari Serikat Kemalangan (SKM) sekitar, sampai saat ini papan sebanyak 20 keping tersebut belum digantioleh perusahaan. Sedangkan papan itu sangat dipergunakan masyarakat untuk dibuat keranda (peti mati) bagi masyarakat yang kurang mampu di kampung tersebut bila mana ada salah seorang warga yang meninggal,” pungkasnya. (CR-1/pojoksumut)



loading...

Feeds