Juara 10 Kali Liga Prancis Ditolak Egy, Alasannya Masuk Akal

 Egy menjawab sejumlah pertanyaan media dengan lugas. (lechia.pl)

Egy menjawab sejumlah pertanyaan media dengan lugas. (lechia.pl)

POJOKSUMUT.com, Sebelum memutuskan berlabuh di Lechia Gdansk, Egy Maulana Vikri sejatinya berpeluang tampil di beberapa klub besar Eropa.

Salah satunya Saint-Etienne di kasta teratas Liga Prancis. Namun, Egy punya satu alasan kuat untuk menolak pengoleksi 10 gelar juara Ligue 1 dan runner-up Liga Champions 1975-1976 itu.

Keputusan Egy memilih klub Polandia memang sempat memunculkan pertanyaan. Pasalnya, Liga Sepak Bola Polandia terbilang kurang populer, baik di Eropa atau di belahan bumi lain.

Terlebih di Indonesia, yang lebih mengidolai tim-tim asal Inggris, Italia, Spanyol, Jerman, Prancis, atau Belanda.

Namun, level kompetisi ternyata bukan menjadi alasan utama Egy dalam menjatuhkan pilihan.

Dia bahkan mengaku sempat menolak peluang bergabung ke Saint-Etienne, yang notabene pernah 10 kali menjadi tim terbaik di kasta teratas Liga Prancis, dan sekali menjadi runner-up European Cup (cikal bakal Liga Champions) pada 1975-1976.

“Saya memperoleh banyak tawaran dari klub Asia dan Eropa. Ada permintaan dari Benfica, juga klub Italia. Selama tujuh hari saya berada di Saint-Etienne. Mereka ingin saya menetap di sana.”

“Namun, ada sesuatu yang hilang. Di sana, saya tak merasakan kenyamanan seperti di rumah. Mereka berbicara kepada saya di ruang ganti, dan sama sekali tak saya pahami,” urai Egy dalam wawancaranya kepada media Polandia, SuperExpress.

Menurut Egy, kendala bahasa menjadi salah satu alasannya keberatan berkarir di Prancis. Selain itu, dia juga enggan memulai karir dari tim akademi. Hal itu yang membuatnya meminta sang agen, Dusan Bogdanovic, untuk mencari alternatif lain.

“Saya bisa cocok dengan bahasa Inggris, tapi tidak dengan Prancis. Karena itu saya meminta manajer untuk mempertimbangkan tawaran lainnya. Saya ingin berangkat setahap demi setahap.”

“Saya punya ambisi besar, juga masih muda. Kelak saya ingin ke klub besar, tapi bukan untuk tim akademi dan setelah ditransfer dari tim lain,” sebut pemuda berumur 17 tahun itu.

Pada akhirnya, Egy berharap Lechia menjadi batu pijakan dalam meniti karir gemilang di Eropa. Jebolan PPLP Ragunan itu pun mengaku sudah cukup banyak mencari tahu soal calon klub barunya tersebut.

“Sepak bola Polandia memang tak terlalu dikenal di Indonesia. Namun, saya punya cukup waktu untuk mempelajari segala hal.”

“Contohnya, saya tahu bahwa Polandia memiliki timnas sepak bola yang berada di ranking ketujuh FIFA, lebih tinggi dari negara kuat semisal Inggris. Saya juga kenal beberapa pesepak bola dari negara ini. Setelah saya tiba di Gdansk, saya menyadari sudah membuat pilihan tepat,” pungkasnya.

(ira/JPC/sdf)



loading...

Feeds