Kasus Murid Dihukum Jilat WC, Ini Tanggapan Psikolog di Medan

Murid yang mengaku disuruh jilat WC. 
foto : ist

Murid yang mengaku disuruh jilat WC. foto : ist

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Kasus murid dihukum jilat WC lantaran tak kerjakan tugas oleh oknum guru di SD Negeri Cempedak Lobang, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Serdangbedagai (Sergai), Sumatera Utara (Sumut) sangat tidak mendidik.

Menurut Psikolog dari Universitas Medan Area (UMA) Irna Minauli tindakan ini menunjukkan saat ini banyak guru yang sepertinya kehilangan akal dalam menghadapi siswanya yang dinilai tidak peduli terhadap tugas yang diberikan.

“Banyak murid yang cenderung menyepelekan gurunya sehingga menimbulkan perasaan kesal dan merasa tidak dihargai. Guru sering membandingkan masa ketika murid menghormati guru sehingga takut jika melakukan pelanggaran. Akan tetapi, menghadapi anak-anak dari generasi Z atau millennial saat ini tentunya perlu ada adaptasi terhadap sistem disiplin yang hendak diterapkan,” jelasnya kepada Pojoksumut.com, Rabu (14/3/2018).

Baca Juga : Astaga! Tak Kerjakan Tugas, Murid SD di Sei Rampah Dihukum Jilat WC 12 Kali
Baca Juga : Disdik Sergai Akui Guru HUkum Murid Jilat WC, Begini Penjelasannya

Irna menegaskan selama ini ada kekeliruan dari para orang tua dan guru dalam pembentukan disiplin. “Penegakan disiplin seringkali disamakan dengan pemberian hukuman. Padahal, hukuman seringkali tidak efektif dan malah menimbulkan banyak masalah baru,” ungkapnya.

Dia mengurai disiplin yang positif seharusnya membangun dan mengajarkan pada anak pemecahan masalah. “Sementara itu, hukuman seringkali membangkitkan kemarahan, kebencian dan hanya bersifat sementara saja dalam mengubah perilaku,” tegasnya.

Irna pun memastikan bentuk dari hukuman yang menjilat lantai WC tentu saja tidak sejalan dengan prinsip pendidikan. “Selain dapat membahayakan bagi kesehatan juga bersifat mempermalukan sehingga dapat menjatuhkan harga diri anak,” pungkasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, MB, salah seorang murid SD Negeri Cempedak Lobang, Kecamatan Sei Rampah, Kabupaten Sergai diperintahkan gurunya berinisial M untuk menjilat WC.

Informasi yang diperoleh Rabu (14/3/2018), kejadian itu bermula ketika MB tak membawa tanah kompos yang diperintahkan oleh gurunya itu. Lantas, sang guru menghukum muridnya dengan memaksa menjilat WC.

“Anak saya disuruh jilat WC sebanyak 12 kali. Tapi baru 4 kali dijilatnya sudah tidak kuat dan muntah,” ungkap ibu siswa, SH, saat diwawancarai sejumlah awak media di kediamannya. (nin/pojoksumut)



loading...

Feeds