Ketika Seniman Mural Dunia Balik ke Medan Demi Melukis Becak yang Dirusak

Ernest saat melukis kembali gambar becak di Jalan Perdana Kecamatan Medan Barat, Kamis (22/3/2018), yang dirusak OTK beberapa waktu lalu.
Foto : fir/pojoksumut

Ernest saat melukis kembali gambar becak di Jalan Perdana Kecamatan Medan Barat, Kamis (22/3/2018), yang dirusak OTK beberapa waktu lalu. Foto : fir/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Seniman asal Lithuania, Ernest Zacharevic, harus kembali ke Medan tepatnya di Jalan Perdana Kecamatan Medan Barat, Kamis (22/3/2018).

Bukan tanpa alasan dia balik ke Medan. Pasalnya, karya seni mural yang dilukisnya di dinding jalan tersebut dan diharapkan menjadi ikon Kota Medan raib sejak beberapa waktu lalu.

Oleh karenanya, Ernest pun datang kembali untuk memperbaiki karyanya yang bergambar tiga anak sedang bermain dengan seekor anak orangutan di atas becak yang telah dirusak tangan jahil.

Sebelum memasang becak itu, Ernest sempat memoles kembali mural yang sempat viral di media sosial tersebut.

Sempat terjadi masalah saat dua teknisi itu memasang becak. Ukurannya tidak sesuai dengan lukisannya. Becak yang dipasang sedikit lebih besar dari yang sebelumnya. Ernest langsung melakukan pengukuran ulang.

Beberapa bagian becak dirombak. Bagian payung becak yang posisinya terlalu tinggi dibuat lebih rendah. Ernest juga meminta rangka becak yang terlalu tinggi diperbaiki agar pas dengan lukisan. Karena posisi badan becak terlihat menutup kaki anak-anak yag ada dalam lukisan.

Ernest mengatakan kerusakan seni di ruang publik adalah hal yang wajar. Dia begitu terkesan melihat reaksi orang lain yang begitu memberi perhatian terhadap karyanya rusak. Setelah becak itu hilang banyak yang merespon melalui pesan di media sosial pribadinya.

Ernest saat melukis kembali gambar becak di Jalan Perdana Kecamatan Medan Barat, Kamis (22/3/2018), yang dirusak OTK beberapa waktu lalu.
Foto : fir/pojoksumut

Kedatangan Ernest kembali ke Medan ternyata bukan hanya untuk memperbaiki lukisan muralnya. Rencananya Ernest akan membuat mural baru di beberapa titik Kota Medan. Tujuannya hanya untuk mengkampanyekan pelestarian hutan dan lingkungan.

“Saya berkolaborasi dengan NGO lokal dan internasional juga. Dan kami membuat seni di ruang publik yang mengkampanyekan tentang lingkungan dan pelestarian hutan,” kata Ernest.

Ernest akan membuat karya di empat titik. Salah satunya di kawasan Jalan Sekip, dekat Bundaran gatot Subroto. Proyek mural yang dikerjakannya masih satu rangkaian dari kampanye Splash and Burn yang digalang bersama seniman lainnya.

“Kami akan mendatangkan artis mural dari Portugal juga, yang sangat terkenal dan punya talenta. Dia akan datang ke Medan, untuk berkontribusi dalam proyek kita,” katanya.

Di Indonesia, Ernest dkk bekerjasama dengan Orangutan Information Centre (OIC). Direktur OIC Panut Hadisiswoyo mengapresiasi langkah yang dilakukan Ernest. Karena melalui seni kampanye pelestarian hutan khususnya habitat untuk orangutan bisa lebih dipahami masyarakat awam.

“Kita melihat antusias masyarakat itu cukup besar terhadap seni. Kita menggunakan seni sebagai daya tarik,” katanya.

Dalam kurun waktu dua tahun terakhir, Ernest bersama koleganya sudah membuat sekira 15 karya. Salah satu karyanya yang mendunia adalah tulisan SOS ditengah ladang sawit di kawasan Taman Nasional gunung Leuser. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds

Zero Waste City Wujudkan Keadilan Ekologis

Nur Hidayati Direktur Esekutif Nasional Walhi menyatakan Peringatan Hari Bumi harusnya dapat menjadi momentum memperluas gerakan penyelamatan lingkungan hidup di …