Ketika Djanur Tak Lagi Dipercaya 100 Persen di PSMS

Djanur didampingi kiper Dhika Bayangkara memberikan keterangan usai pertandingan di Stadion Teladan beberapa waktu lalu.
Foto : nin/pojoksumut

Djanur didampingi kiper Dhika Bayangkara memberikan keterangan usai pertandingan di Stadion Teladan beberapa waktu lalu. Foto : nin/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Pemecatan dua asisten tanpa komunikasi dengan Pelatih Kepala PSMS, Djajang Nurjaman menjadi sinyal intervensi manajemen pengurus. Mirisnya ini bakal bukan jadi yang pertama. Sebab, ke depan manajemen tak lagi memberikan kepercayaan 100 persen untuk pelatih yang disapa Djanur itu terutama dalam hal memilih pemain.

CEO PSMS, Dody Taher berdalih hal tersebut dilakukan untuk meringankan tugas Djanur. Dia juga menjelaskan pendepakan dua asisten Djanur, Muhamad Yusuf Prasetyo dan Suwanda bukan soal tidak ada koordinasi tapi melainkan ada perintah dari atasan yang harus dituruti.

“Bukan enggak ada kordinasi. Kita rapat dipanggil Dewan Pembina masalah kekalahan tiga nol dari Persib. Kita telepon, beliau (Djanur) sudah pulang (ke Bandung). Permisi pun enggak ada sama manajemen. Jadi kita ya sudah, perintah (dari Dewan Pembina) kita jalankan untuk menyelamatkan PSMS, kita harus cari kelemahannya dimana,” ujarnya, Minggu (11/6/2018) malam.

Lalu kenapa Muhamad Yusuf Prasetyo alias Yoyok dan Suwanda? “Kalau saya lihat itu stamina kita menurun. Si Yoyok tidak bisa membantu Pak Djajang juga di dalam. Untuk memberikan masukan, akhirnya kita masukkan Suharto (AD), pemain tanggal 21 mungkin sudah datang, dua pemain asing, empat pemain lokal kita panggil untuk trial. Sebenarnya ini bukan merugikan Djajang, dia lebih ringan tidak berpikir capek membenahi PSMS. Yang kita bantu ini, yang mana pemain yang saya kirim ini, yang bisa dipakainya. Intinya membantu pelatih,” jelasnya.

Dia menyebutkan, tidak boleh membiarkan kondisi PSMS dengan kondisi saat ini. “Kalau kalah macam saya sekarang ini dibilang orang bodoh, tolol, kita harus cepat membenahi ini,” ungkapnya.

“Ya kita sama-sama diskusikan, enggak bisa dia (Djanur) putuskan sendiri. Harus ada kordinasi, kalau dulu 100 persen kita serahkan ke dia (soal pemain). Nanti kita akan kita libatkan para legenda, ada Parlin, Tumsila. Tidak lagi kita kasih kepercayaan sepenuhnya ke Djajang,” tegasnya.

“Karena apa? bukan kita bilang dia gagal. Tapi, kurang berhasil. Mungkin cari pemain dia salah. Atau kurang diskusi. Makanya kita batu, kita kasih Suharto. Tidak ada tujuan negatif, hanya kebaikan PSMS,” ungkapnya.

Saat ini dikatakannya Djanur masih diberikan kesempatan melatih. Hanya saja, kata Dody pemain pilihan Djanur kurang berkualitas termasuk para asistennya. “Saya ini enggak ngerti bola, tapi ditugaskan untuk berhasil,” lanjutnya.



loading...

Feeds