Suwanda : Tidak Hanya Semangat, Sepak Bola Butuh Sinergi

Djanur bersama dua asistennya Suwanda (tengah) dan Yoyok (kiri).
Foto : Instagram/muhamadyusupprasetiyo

Djanur bersama dua asistennya Suwanda (tengah) dan Yoyok (kiri). Foto : Instagram/muhamadyusupprasetiyo

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Persoalan stamina dan fisik disebut menjadi salah satu faktor tidak maksimalnya hasil pertandingan PSMS Medan di Liga 1 hingga laga ke-13. Saat ini, PSMS berada di peringkat 14 dengan 15 poin dari delapan kali kalah dan lima kali menang.

PSMS Medan berhasil mencetak 16 gol, namun kebobolan 24 gol, sekaligus tim terbanyak kemasukan gol lawan hingga saat ini.

Imbasnya, usai kekalahan 0-3 dari Persib Bandung di Stadion Teladan, 5 Juni 2018 lalu, satu pemain asing dan dua asisten pelatih langsung didepak. Mereka adalah, Sadney Urikhob dan dua asisten Djajang Nurjaman, Muhammad Yusuf Prasetyo dan pelatih fisik Suwanda yang habis libur lebaran tak lagi menjadi bagian dari tim.

Pencoretan dua asisten pelatih cukup mengejutkan, apalagi caranya di luar mekanisme. Suwanda misalnya, dianggap manajemen pengurus Ayam Kinantan tidak cukup baik memperbaiki stamina pemain.

Lima pertandingan terakhir PSMS memang tak begitu baik dengan tiga kali kalah (lawan Persib, Mitra Kukar dan Borneo) dan dua kali menang (lawan Arema dan Sriwijaya). Dimana satu kekalahan terjadi hadapan pendukung PSMS sendiri. Kelimanya dilalui di bulan puasa.

Suwanda memiliki paparan sendiri terkait soal stamina Legimin Raharjo dkk. Dia mengurai dari contoh kasus saat padatnya jadwal di Bulan Puasa. Termasuk pertandingan PSMS lawan Borneo FC (1/6/2018) yang sangat melelahkan yang berimbas pada kalah telak dari Persib Bandung.

“Belajar dari pengalaman periodisasi kebugaran yang melelahkan di periode bulan puasa, dimana harus menjalani laga away. Perjalanan tim sekelas Liga 1 sangat memprihatinkan, dimana pemain harus bangun jam 03.00 WIB pagi untuk melakukan aktivitas dan sahut, lalu berangkat ke bandara jam 04.00 WIB pagi dengan naik pesawat jam 05.30 WIB untuk away ke daerah lain, namun harus transit ke Jakarta dengan perjalanan dua jam. Setiba di Jakarta tim menunggu sampai 10.30 WIB dan berangkat kembali dengan jarak tempuh lewat udara. Kemudian berlanjut perjalanan daear dengan jarak tempuh menuju lokasi dan tiba di hotel jam 18.00 sungguh luar biasa seharian perjalanan penuh. Bagaimana kondisi pemain? Sudah pasti tahu jawabannya,” tutur Suwanda, Selasa (12/6/2018).

Tidak hanya itu, Suwanda melanjutkan setelah menginap semalam di hotel, kemudian sore harinya 16.30 WIB waktu setempat, tim berlatih kembali untuk pemulihan kondisi fisik para pemain dengan berlatih ringan, setelah itu kembali ke hotel buka puasa dan sekalian makan malam.
“Pemain beristirahat dan fokus untuk pertandingan esok malam. Pertandingan kickoff jam 21.30 selesai jam 23.30. Selesai bertanding pemain kembali ke hotel langsung berkemas untuk siap-siap kembali menuju bandara. Sungguh sangat disayangkan selesai bertanding dan kembali ke hotel berharap pemain dapat makan kembali, namun hanya sisa-sisa makanan buka puasa saja. Padahal pentingnya nutrisi pasca-bertanding harus disiapkan untuk pemain, namun dalam kenyataannya pemain beli makanan masing-masing, hanya sekadar untuk menahan lapar dan itupun tidak sesuai dengan kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan pasca bertanding. Bagaimana menurut anda kondisi pemain? Pasti sudah bisa membayangkannya,” bebernya.

Selanjutnya, pukul 01.00, tim berangkat ke bandara dengan perjalanan darat tiga jam dan pemainpun beristirahat sepanjang perjalanan, namun kembali lagi terbangun jam 3.30 untuk bersahur di dalam bus. Kemudian tiba di bandara jam 4.30 sambil menunggu pesawat jam 5.30. “Lagi-lagi apa yang dikeluhkan sama pemain sangat melelahkan, karena harus transit lagi ke Jakarta dan menunggu lagi 3 jam untuk kembali ke lokasi yang ditempuh. Banyak belajar dari periodisasi perjalanan ini dan ini harus benar-benar disikapi,” ungkapnya.

Suwanda tidak membela diri dengan mengungkapkan semua ini. Namun, dia memastikan pelatih kebugaran manapun tidak akan dapat menjamin pemainnya akan selalu tampil fit karena minimnya asupan nutrisi pasca-bertanding. Dia menjelaskan recovery yang tidak cukup dan hanya berlatih 1 hari untuk menghadapi lawan tangguh yang mendapatkan recovery-nya cukup dan didukung kualitas materi pemain yg baik.

Ini membuat tak mengherankan jika tim-tim besar pun di Liga 1 mengalami kekalahan dan penampilannya belum stabil.

“Sepak bola tidak hanya membutuhkan semangat saja, sepak bola butuh sinergi. Sepak bola harus diimbangin dengan sports science dan sepak bola berpikirlah sepak bola. Bukan sepakbola untuk kepentingan sesaat yang semuanya akan berimbas pada prestasi tim itu sendiri. Majulah sepak bola Indonesia semoga ke depan federasi benar-benar memahami dari segi aspek-aspek di atas dan segera memperbaiki jadwal kompetisi di masa yg akan datang,” pungkasnya. (nin/pojoksumut)



loading...

Feeds