Pengamat Politik : Djoss Diprediksi Unggul di Debat Terakhir

Kedua pasangan calon saat debat publik kedua yang digelar KPU Sumut di Hotel Adi Mulya, Sabtu malam (12/5) lalu. Besok kedua pasangan kembali beradu dalam debat.

Kedua pasangan calon saat debat publik kedua yang digelar KPU Sumut di Hotel Adi Mulya, Sabtu malam (12/5) lalu. Besok kedua pasangan kembali beradu dalam debat.

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Debat publik Pemilihan Gubernur Sumatera Utara yang terakhir akan digelar di Hotel Dyandra Santika Medan, Selasa (19/6/2018) malam. Debat ini juga disebut sebagai variabel penentu naiknya elektabilitas jelang pemilihan 27 Juni mendatang.

Dalam dua debat terakhir, kedua pasangan calon terlibat saling balas argumen. Beberapa istilah dalam debat seperti stunting dan martabatisasi sempat menjadi viral di media sosial. Debat terakhir akan mengusung tema soal Penegakan Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Pengamat Politik FISIP USU Fernanda Putra Adela memprediksi, pasangan Djarot Saiful Hidayat-Sihar Sitorus akan unggul dalam debat nanti malam. Analisisnya berdasar pada dua debat sebelumnya.

“Kalau secara objektif kita melihat, Tim DJOSS ini lebih matang. Karena pengalaman Djarot khususnya sudah terbiasa dengan debat-debat gitu. Kemudian di jakarta dengan yang lebih tinggi dinamikanya dia bisa menguasain itu. Nah di ERAMAS ini saya pikir mereka harus serius untuk menempa pengetahuan dia melalui konsultannya. Jangan sampai mengeluarkan bahasa yang tidak terarah,” kata pengamat yang akrab disapa dengan Tata.

Tata juga mengkiritisi istilah stunting yang sempat membuat Edy Rahmayadi bingung untuk menjawabnya. Menurut Tata apa yang dijawab Edy Rahmayadi terlihat tidak terkonsep.

“Seperti stunting misalnya. Malah dijawab soal ambulans dan sebagainya. Kan itu kan tidak terkonsep sebenarnya. Saya pikir ada kegugupan juga. Ini masalah kegugupan juga. Soal jam terbang DJOSS memang unggul. Saya melihat, DJOSS bisa unghul di debat terakhir,” katanya.

Lebih jauh lagi, dia memandang pengalaman Djarot yang pernah memimpin di Kota Blitar dua periode dan Gubernur DKI Jakarta, menjadi modal penting. Sehingga Djarot paham dengan istilah-istilah seperti stunting dan lainnya.

“Stunting itu isunya isu nasional. Tapi kan kemudian dia kan cari celah ke situ untuk kemudian meng-KO-kan pasangan ERAMAS. Nah,saya pikir kalo seperti itu, di debat ketiga ini ini akan punya potensi lagi ada balas pantun lagi. Saya melihatnya seperti itu,” ungkapnya.

Pada debat sebelumnya, Pasangan Djoss sempat dicecar pertanyaan soal Dalihan Na Tolu atau filosofis atau wawasan sosial-kulturan yang menyangkut masyarakat dan budaya Batak. Saat debat itu, Djarot yang diminta menjawab tampaknya diberi bocoran oleh Sihar Sitorus, wakilnya.

“Karena jam terbang itu ketika dia dikasih kata kunci dari Sihar. Kemudian Djarot bisa mengeksplorasi itu. Saya lihat karena mungkin pengalaman dia sebagai kepala daerah sehingga dia bisa menguasai bahan,” tukasnya.

Dia pun memberikan saran agar kedua paslon lebih mempersiapkan bahan matang soal tema debat. Apalagi tema yang diangkat soal HAM. Sumut juga termasuk angka tertinggi kasus HAM, khususnya soal konflik agraria. Para calon harus menempatkan diri sebagai kepala daerah yang hadir di tengah persoalan HAM.

“Artinya mereka harus punya posisi lah bagaimana kemudian mengentaskan kasus-kasus HAM yang melibatkan negara dan masyarakat khususnya terkait Sumatera Utara ini kan isu yang paling besar itu kan di konflik agraria, harus ada solusi konkretnya. Artinya solusi konkret itu bagaimana mereka itu kemudian mengurai benang kusut kasus-kasus konflik agraria di Sumatera Utara. Itu yang paling penting,” pungkasnya.

Dalam debat kali ini Tata memprediksi akan terjadi debat sengit. Karena pada momen terakhir ini, para paslon bersaing untuk mermebut hati rakyat dengan argumen-argumen yang bernas.

“Kedua pasangan harus menyiapkan amunisi dengan serius gitu. Apalagi kasus tema-tema tentang HAM ini kan tema yang sentitif yang jarang dieksplorasi oleh pemerintah tapi kemudian diekplorasi oleh lembaga swadaya masyarakat kebanyakan. Itu yang saya pikir mereka akan sulit untuk menjelaskan solusi konkrit. Karena masalah HAM ini kan yang terlibat di kepolisian, di kejaksaan juga. Nah kemampuan mereka untuk mengkonsolidasikan lah muspida-muspida di daerah ini,” tandasnya.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Median, Rico Marbun meyakini debat pamungkas nanti akan sangat berpengaruh terhadap keyakinan pemilih dalam pencoblosan 27 Juli nanti.

“Pengaruh debat akan mempengaruhi sekitar 30 persen pemilih, apalagi selisih suara yang tipis akan sangat berpengaruh,” kata Rico.

“Debat pamungkas amat krusial, sehingga tiap kandidat harus benar-benar tak melakukan kesalahan sedikitpun. Sebab, hal itu bisa berakibat fatal,” sebut Rico.

Menurut dia, tiap kandidat harus memastikan zero mistake atau nol kesalahan. Dalam pertarungan yang ketat akan berbahaya bila kesalahan di depan publik.

“Perbedaan elektabilitas antara Edy dan Djarot kian tipis. Oleh sebab itu, tiap kandidat harus benar-benar memanfaatkan sisa waktu kampanye sebaik-baiknya,” ucap dia.

Ia menyebutkan, salah satu alasan kenapa Djarot kian melesat karena dianulirnya JR Saragih sebagai kandidat. Dia meyakini, pendukung JR Saragih lebih banyak beralih ke pasangan Djarot-Sihar.

“Semenjak JR Saragih dinyatakan tidak lolos dalam pilgub, ada pergeseran perilaku pemilih. Pemilih non muslim yang tadinya terpecah memilih Djarot dan JR, sekarang bersatu untuk memilih nomor urut 2,” tandasnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds

Aura Kasih Ngaku Gak Kuat Jalani LDR

Pojoksumut.com, Jakarta- Siapa sih yang mau jauh-jauh dari sang kekasih? Menjalani hubungan jarak jauh alias LDR (long distance relationship) dengan …