Postingannya Bikin Kontroversi, Ini Komentar Guru Spiritual Danau Toba Itu

Ikan Mas raksasa yang didapat pemancing di Danau Toba.
Foto :  FB Willy Wahyu Sihotang

Ikan Mas raksasa yang didapat pemancing di Danau Toba. Foto : FB Willy Wahyu Sihotang

 

POJOKSUMUT.com, UNGGAHAN Rismon Raja Mangatur Sirait di Facebook tentang penyebab tenggelamnya KM Sinar Bangun di Danau Toba, telah menjadi pro dan kontra.

 

Pria yang menyebut dirinya Guru Spiritual Danau Toba tersebut menuliskan KM Sinar Bangun tenggelam adalah imbas dari ketidakpedulian para pemancing yang telah menangkap dan memakan ikan mas raksasa dari Danau Toba seberat 14 Kg.

Kepada Pojoksumut.com, Rismon mengaku tak bisa menghentikan bagaimana netizen berpikir dan berpendapat tentang apa yang dibagikannya di Facebook. Diapun menyerahkan ke masing-masing orang untuk percaya atau tidak.

 

“Pro dan kontra itu hak orang, tidak bisa saya paksakan,” ungkapnya via Whatsapp.

 

Dia kembali menegaskan apa yang terjadi di KM Sinar Bangun dengan ratusan penumpang itu karena ulah manusia. “Semua karena kesalahan manusia,” tegasnya.

 

Mirisnya, soal keberadaan banyaknya korban yang masih belum ditemukan, Rismon menyebutkan, “Korban tak bisa ditemukan. Sudah pasti itu,” ungkapnya.

 

Sebelumnya, Rismon membeber pada tanggal 17 Juni 2018 pukul 16:30 Ikan mas seberat 14 Kg didapat pemancing di Desa Paropo Tao Silalahi.

 

“Ikan Mas paling besar dan saya juga yakin ini paling besar didapat di Danau Toba dalam kurun waktu 20 Tahun terakhir. Bicara hal mistis percaya atau tidak percaya semua kembali ke pribadi masing-masing. Menurut cerita disana para pemancing tidak mengindahkan larangan dan saran orang tua agar ikan Mas ini dilepas kembali ke Danau Toba. Dengan bangganya para pemancing tidak mengindahkan saran orang tua disana langsung membawa ikan Mas ini kerumahnya untuk di masak dan dimakan,” ungkapnya.

“Tanggal 18 Juni pukul 16:30 wib angin puting beliung di atas Danau Toba tepat di Tao Silalahi Paropo, hingga membuat ombak besar yang nota bene banyak mengakui yang sudah lama tinggal dipinggiran Danau Toba belum pernah melihat ombak setinggi 3-4 m dan ketebalan ombak 2 m,” lanjutnya.

“Tanggal 18 Juni 2018 pukul 16:35 seluruh kawasan Danau Toba di terpa angin kencang hingga ke darat. Angin kencang dan ombak besar dari Tao Silalahi Paropo ke jalur penyeberangan Simanindo ke Tigaras berjarak kurang lebih 15 km,” bebernya.

“Cerita dari orang yang pernah lewat naik kapal di kawasan luas Danau Toba Tao Silalahi makanya di katakan Silalahi Nabolak(seekor elang saja tak sanggup melewatinya), agak jarang dilintasi karena bisa tiba -tiba ada ombak besar dan angin kencang. Perlu semua kita ketahui bahwa tingkat besar ombak di seluruh Danau Toba tidak sama karena pengaruh luas dan zona.Zona lintasan kapal KM Sinar Bangun yang kecelakaan di Danau Toba 18 Juni 2018 tepatnya ditengah Danau lintasan Simanindo ke Tigaras adalah zona berbahaya dilintasi bila besar ombak tidak seperti lazimnya,” ungkapnya.

Rismon menjelaskan tulisannya ini hanyalah resensi saja. “Salam peduli kebersihan Danau Toba. Salam menjaga kearifan lokal di Danau Toba,” pungkasnya. (nin/pojoksumut)



loading...

Feeds