Sumut Terbanyak Kedua Jumlah Pengguna Narkoba, Begini Solusi dari BNN RI

Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Arman Depari saat melantik pengurus DPD GMDM Sumut di Medan, Jumat (22/6/2018).  Foto : fir/pojoksumut

Deputi Pemberantasan BNN RI Irjen Arman Depari saat melantik pengurus DPD GMDM Sumut di Medan, Jumat (22/6/2018). Foto : fir/pojoksumut

 

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Jumlah pecandu atau pengguna narkoba di Sumatera Utara (Sumut) khususnya, terus mengalami peningkatan yang drastis.

 

Bahkan, pada tahun 2017 Sumut berada dalam urutan kedua provinsi terbanyak pengguna narkoba setelah DKI Jakarta. Oleh karenanya, berbagai cara harus terus dilakukan untuk menekan jumlah pecandu.

Deputi Pemberantasan BNN RI, Irjen Polisi Arman Depari mengungkapkan, menekan jumlah pecandu narkoba tidak cukup dengan hanya melakukan tindakan penegakan hukum. Namun, melalui pencegahan juga bisa dilakukan salah satunya lewat relawan antinarkoba.

“Relawan antinarkoba sangat penting keberadaannya dalam membantu menekan jumlah pecandu di Sumut. Terlebih, saat ini Sumut menduduki peringkat kedua dari data tahun 2017. Padahal, sebelumnya berada pada posisi ketiga,” ungkap Arman saat melantik pengurus Badan Koordinasi Nasional Garda Mencegah dan Mengobati (GMDM) DPD Prov Sumut DPK Medan periode 2018-2023 di gedung CWS Jalan Gatot Subroto No 122 Medan, Jumat (22/6/2018) sore.

Hadir dalam pelantikan itu, Dewan Pendiri GMDM, Elyse CA Nayoan, Ketua Umum DPP GMDM Jeffry Tambayong dan tamu undangan.

Menurut Arman, dari 250 juta jumlah penduduk Indonesia sebanyak 2,25 persen atau 4 hingga 4,5 juta orang merupakan pecandu narkoba. Jumlah pecandu tersebut dinilai sudah melewati batas toleransi yang seharusnya hanya 2 persen. Maka dari itu, Presiden Joko Widodo menetapkan Indonesia menjadi negara darurat narkoba. Dengan kata lain, perang terhadap narkoba.

“Membentuk organisasi antinarkoba atau relawan sebagai upaya perang terhadap narkoba, dengan cara pencegahan. Untuk itu, peran serta relawan sangat diharapkan di tengah-tengah masyarakat guna menolong yang sudah tersesat akibat kecanduan narkoba. Selain itu, secara perlahan membangun kekuatan untuk membentengi diri dari narkoba,” terang Arman yang juga sebagai Pembina GMDM.

Diutarakan Arman, adanya relawan ini diharapkan dapat bersentuhan dengan para pecandu. Sebab, ketika aparat yang turun langsung seringkali mereka menghindar karena khawatir tersandung proses hukum. Padahal, tidak demikian.

“Di Jabar, relawan mendatangi para pecandu hingga penderita HIV untuk dirawat agar tidak kecanduan lagi. Karena, rata-rata dari pecandu tidak diterima keluarganya atau diperhatikan dan bahkan dikucilkan masyarakat. Untuk itu, kehadiran relawan sangat penting merangkul mereka agar tetap semangat menatap hidup demi masa depannya,” sebut Arman.

Ia menuturkan, menjadi relawan jangan sekalipun berpikir dapat imbalan materi. Malahan, justru sebaliknya harus banyak berkorban. “Menjadi relawan tentunya bekerja dengan hati. Tugas relawan sangat mulia karena menyelematkan nyawa orang lain. Hal ini harus dilakukan karena kalau tidak sukarela, maka korban akan semakin banyak berjatuhan,” tuturnya.

Arman menambahkan, melakukan pencegahan narkoba tidak usah menunggu terjadi musibah akibat dari narkoba itu sendiri, seperti meninggal dunia dan sebagainya. Artinya, bisa dimulai dari lingkungan sekitar rumah.

“Kita harus peka dan peduli jika ada di lingkungan rumah kita terindikasi narkoba. Apabila indikasinya lebih dari pecandu, maka langsung cepat melaporkan kepada BNN atau polisi,” imbuhnya. (fir/pojoksumut)

 



loading...

Feeds