ROV yang Tersangkut di Dasar Danau Toba Berhasil Diangkat

Kursi KM Sinar Bangun yang terekam ROV di Dasar Danau Toba.

Kursi KM Sinar Bangun yang terekam ROV di Dasar Danau Toba.

POJOKSUMUT.com, MESIN Remotely Operated UnderwaterVehicle (ROV) yang diperbantukan untuk mendeteksi keberadaan korban dan kapal KM Sinar Bangun akhirnya berhasil diangkat ke permukaan.

Sebelumnya, ROV sempat tersangkut di dasar laut, setelah berhasil merekam beragam benda dan jasad penumpang KM Sinar Bangun. Setidaknya, ada 10 jasad, sepeda motor, bangku yang berhasil direkamnya, Jumat (29/6/2018)

Namun, saat hendak diangkat, ROV tersangkut. Awalnya, tim gabungan Basarnas berusaha mengangkut ROV dengan pukat harimau, sayang begitu ditarik ke permukaan kembali gagal kemarin, Sabtu (30/6/2018).

Usaha kedua akhirnya membuahkan hasil, ROV kini sudah berhasil diangkat.

ROV merupakan sejenis kendaraan penyelam yang dikontrol menggunakan remote control jarak jauh, pada umumnya digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan dasar laut yang dibuat Badan Penerangan dan Penerapan Teknologi (BPPT).

Hingga kini proses evakuasi korban dan bangkai KM Sinar Bangun sendiri belum menemukan cara terbaik. Sebab, di dekat lokasi ditemukan kapal dan jasad korban ada lubang yang sangat dalam.

Sementara itu, terhitung dari tanggal 2 Juli 2018 Kementrian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan Bulan Keselamatan Pelayaran di Danau Toba. Dengan operasi ini diharapkan nantinya ada perubahan signifikan dalam hal pelayaran di Danau Toba.

Hal pertama yang dilakukan adalah pembentukan tim Ad-Hoc yang melibatkan TNI, Polri, KNKT, BMKG dan juga BKI, tim ini bertugas untuk mengevaluasi dan mengawasi pelayaran di Danau Toba

Sampai pada hari Sabtu (30/6/2018) tim ini sudah melakukan ramp-chek 124 unit kapal di Danau Toba dari total 215 untuk membenahi pelayaran di Danau Toba.

 

“Ramp-chek itu adalah kita akan melakukan pengecekan kepada kapal-kapal yang ada di sini dari sisi keselamatannya. Yang menjadi prioritas lantai tiga untuk kapal-kapal kayu itu untuk tidak ada, jadi harus dibongkar, sementara mungkin tidak dipakai dulu, tetapi kedepannya harus di bongkar karena dek di atas membuat kapal tidak seimbang. Kemudian tralis. Di kanan kiri jendela kapal-kapal ini ada tralisnya, ini mempersulit orang keluar ketika terjadi sesuatu. Kemudian memperbesar akses keluar masuk dek,” kata Budi Setiyadi, Dirjen Hubungan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub saat mengunjungi pelabuhan Tigaras hari Sabtu (30/6/2018). (*/nin/pojoksumut)
.



loading...

Feeds