Atasi Banjir di Medan, Ini Solusi dari Pengamat Lingkungan

Anak-anak bermain di genangan banjir di Kawasan Medan Amplas.
foto : DOK/pojoksumut

Anak-anak bermain di genangan banjir di Kawasan Medan Amplas. foto : DOK/pojoksumut

POJOKSUMUT.com, MEDAN-Persoalan banjir di Kota Medan yang kerap terjadi ketika dilanda hujan deras, tak bisa diselesaikan hanya mengandalkan tenaga manusia.  Melainkan, harus menggunakan teknologi.

“Seharusnya gunakan teknologi. Kalau masih memakai tenaga orang, ini sudah tak benar. Prinsipnya kan mudah, bisa dibuat dan sekarang mau tidak mengerjakan,” ungkap pengamat lingkungan Kota Medan, Jaya Arjuna, Jumat (13/7/2018).

Menurutnya, selama ini dilakukan banyak pengorekan parit untuk mengalirkan air. Namun, ternyata air tidak mengalir sehingga pengorekan itu sia-sia.

“Sudah terjadi sedimentasi dalam jumlah banyak di drainase. Untuk mengatasinya, Medan sebagai kota metropolitan tak selayaknya menggunakan tenaga manusia untuk mengoreknya tetapi harus menggunakan teknologi,” sebut Jaya.

Diutarakan Jaya, permasalahan utama banjir di Medan adalah drainase. Seringkali banjir di kota, namun sungai tidak meluap.

Bahkan, persoalan banjir di Medan sekarang ini cukup memalukan karena bertahan di posisi terjelek. Dari 27 kota layak huni, Medan berada di posisi ke 26, di atas Makassar.

“Medan mengalami banjir dalam skala besar sejak tahun 2006. Dari hanya sedikit titik banjir, bertambah menjadi 80 persen Kota Medan menjadi titik banjir. Bahkan, sekarang hampir seluruhnya terjadi banjir,” katanya.

Lebih lanjut ia mengatakan, Kota Medan sudah berumur empat abad. Desain kota dibuat sedemikian rupa dengan standar Eropa.

Berbeda dengan Jakarta, Semarang dan Surabaya, ketinggiannya setara dengan permukaan air laut. Sedangkan Medan, 25 meter di atas permukaan laut. Oleh karenanya, tak boleh banjir.

“Dari desainnya, kota ini sebenarnya memiliki keindahan dan fungsi yang mendukung bagi perkembangan kota,” tutur dia.

Ia menyatakan, Medan adalah kota persinggahan orang-orang kaya atau tuan kebun yang datang dari Eropa, salah satunya Belanda. Mereka berhenti di Medan dan menginap di Hotel De Boer, makan dan minum di Tip Top dan belanja di The Sun yang berada di depannnya.

Selain itu, kota ini juga dibangun kantor pos, stasiun kereta api, bank, Rumah Sakit Tembakau Deli dan lain sebagainya. Lalu, di Kesawan juga dibangun drainase dengan lebar lebih dari satu meter.

“Pembangunan Medan ini tidak tanggung, dengan standar Eropa. Lalu ada 7 sungai buatan, di antaranya Sungai Bedera, Sungai Putih, Parit Busuk. Jadi Kota Medan ini dirancang tidak boleh banjir lalu kenapa sekarang banjir? Ini karena pemerintah tak mampu mengelolanya,” tukasnya. (fir/pojoksumut)



loading...

Feeds