Di Balik Tragedi Zahro Express, Nakhoda Kapal Terjun ke Laut Tinggalkan Penumpang yang Terbakar…

Evakuasi mayat korban kapal wisata Zahro Express dan sebanyak 20 Kantong Jenazah Dibawa Keluar dari Kapal Wisata yang Terbakar di 1 mil dari pelabuhan Kali Adem Muara Angke Jakarta Utara. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

Evakuasi mayat korban kapal wisata Zahro Express dan sebanyak 20 Kantong Jenazah Dibawa Keluar dari Kapal Wisata yang Terbakar di 1 mil dari pelabuhan Kali Adem Muara Angke Jakarta Utara. Foto Puguh Sujiatmiko/Jawa Pos

POJOKSUMUT.com, JAKUT-Salah satu korban selamat Kapal Motor Zahro Express terbakar adalah Munaldi, 30. Kepada wartawan Jawa Pos dia menceritakan detik-detik kebakaran yang menewaskan 23 orang (hingga pukul 14.30) itu.

GUGUN GUMILAR

MUNALDI menyayangkan dengan kondisi benda keselamatan di kapal serta awak kabin yang tak menjaga keselamatan para penumpang.

Sebab, sesaat sebelum api terlihat di kapal, sejumlah awak kabin, di antaranya kapten kapal atau nakhoda Muhammad Nali lebih dahulu menerjunkan diri ke laut menggunakan rompi pelampung (life guard).

Sementara di antara beberapa penumpang yang tak panik, membagikan pelampung sterofom berbentuk persegi ke sejumlah penumpang. Lewat itulah, Munaldi bersama keluarga besarnya, istri, anaknya, ibu kandung, dan tiga adiknya selamat dari peristiwa maut itu.

“Kami sempat terombang ambing di laut selama 30 menit,” jelasnya.

Saat berada di laut itulah, Munaldi menceritakan dirinya melihat jelas bagaimana kondisi kapal terbakar. Sebab, ia merupakan satu dari puluhan orang yang lebih dahulu terjun ke laut.

Kala itu, katanya, api besar setinggi tiga meter terlihat di belakang kapal tempat mesin tersimpan. Sementara kapal mulai goyang dan nyaris tenggelam. “Asapnya tinggi banget, mungkin di atas lima meter,” tuturnya.

Sekitar lima hingga sepuluh menit api membakar, kapal kemudian meledak. Beberapa puing kapal yang terbuat dari fiber itu kemudian berhamburan ke atas laut. Bahkan sejumlah penumpang yang terapung terkena pecahan puing.

Laras, 16, gadis belia asal Tambun, Bekasi, Jawa Barat itu masih terbaring lemah di ruang IGD Rumah Sakit Atmajaya, Penjaringan, Jakarta Utara. Gadis belia itu menderita luka bakar parah dua buah kaki dan tangannya dipenuhi luka bakar. Tercampur air garam laut, Laras tak hentinya berteriak kesakitan.

“Perih.. mah perih.. perih.. toloooongg. Perih ini,” teriak Laras di bangsal perawatan IGD RS Atmajaya, siang itu.

Kondisi itu membuat ibunya, Ika Jatmika Sari, 59, tak henti hentinya menangis. Ika tak kuasa melihat kondisi anaknya, sesekali ia berbisik meminta anaknya untuk tenang. Namun hal itu tak bisa berbuat banyak, sebab Ika masih tetap berteriak meminta tolong.

“Pengen usap badannya, tapi ngga bisa kan hampir semuanya kebakar, kulitnya jadi lembab,” keluh Ika sembari mengusap air mata menggunakan kerudung ungu.

Setelah disuntikan obat penenang, teriakan Laras berangsur surut. Meski demikian, dalam kondisi setengah sadar, Laras menceritakan bagaimana detail peristiwa naas itu terjadi, kebetulan saat kejadian Laras berada di Geladak kapal.

Geladak kapal kala itu dipenuhi asap hitam pekat. Nafasnya menjadi tersendat, lantaran kekurangan oksigen sesekali ia batuk lantaran asap tebal.

Dengan tangan kiri menutup hidung dan mulut, Laras berjalan berlari menuju dek kapal melalui anak tangga Geladak. Namun hal itu menjadi sia-sia karena akses keluar lebih dahulu tertutup api membara.

Di tengah kepekatan asap tebal, Laras melihat beberapa penumpang dalam geladak mulai tak sadarkan kiri. Mereka diantaranya ada yang pingsan, terkena luka bakar dan berteriak kesakitan. “Di tengah asap itu, aku ngedengar suara kakak,” tuturnya sembari mencari sumber suara.

Sang kakak kemudian memecahkan jendela sekitar 50×50 sentimeter yang membuka akses geladak dan dek. Lewat itulah, Laras kemudian keluar dari geladak. Sebab itulah hampir sebagian tubuhnya terbakar, lantaran jendela sudah di penuhi api.

Meski kala itu perih menderita sekejur tubuhnya. Laras dan kakanya kemudian loncat ke lautan dengan kondisi beberapa yang ikut terbakar. Pssstttt…. bunyi tubuh Laras ketika terjun ke dalam air laut.

Rasa perih, karena luka tercampur garam tak terasa. Menggunakan pelampung sterofoam persegi. Keduanya kemudian menjahui kapal yang tengah membara.

“Byarrr. Kapal setelah itu meledak, puing puing berhamburan keatas, dan beberapa diantaranya mengenai penumpang yang terapung,” tutur Ika menambahkan cerita itu.

Meski demikian, terkait apa yang menimpa anaknya, Ika sangat bersyukur. Meskipun seluruh tubuhnya nyris mengalami luka bakar. Namun, Laras masih di selamatkan oleh Tuhan, termasuk wajahnya yang tak terkena luka bakar.

Saat kejadian, Ika sendiri terpisah jauh dari anaknya, Laras. Ika bersama dengan suami, dan anaknya bungsunya, Jafar, 8, berada di dek depan kapal menikmati pemandangan laut.

Di tengah kepanikan, suaminya kemudian melempar Ika dan Jafar ke tengah lautan. Ika terombang ambing. Rasa panik membuat seluruh tubuhnya menjadi menggigil dingin. Padahal, kala itu langit cerah, air laut cukup hangat.

“Setelah saya di tarik suami ketengah kerumunan orang yang terapung,” jelasnya.

(yuz/JPG/sdf)



loading...

Feeds

DCS Masih Bisa TMS, Ini Faktornya…

Komisioner KPU Medan Pandapotan Tamba menambakan, dari DCS yang diumumkan jika ada TMS otomatis nomor bacaleg di bawahnya naik ke …